Jumat, 15 April 2011

Keamanan dan Privasi di Dunia Maya

Rh. Widada

Internet awalnya dikembangkan untuk menghubungkan antarpihak yang saling percaya guna bertukar informasi. Dahulu internet hanya merupakan proyek Departemen Pertahanan Amerika. Namun, kini penggunaannya sudah berkembang sangat jauh. Internet sudah menjadi media berkomunikasi masyarakat umum dalam lingkup global dalam berbagai bidang seperti ekonomi perdagangan, pendidikan, politik, seni, gaya hidup dan lain-lain.
Bersamaan dengan perkembangan dan pemanfaatan internet yang mengglobal itu muncul pula berbagai masalah. Komunitas pengguna internet yang semula terbatas pada suatu kelompok yang terikat oleh satu tujuan, pemahaman, kewajiban, dan penghargaan satu sama lain kini telah berkembang menjadi masyarakat majemuk dengan berbagai kepentingan. Di antara mereka tidak jarang terjadi kompetisi untuk memperjuangkan kepentingan masing-masing, terutama jika menyangkut kepentingan material (ekonomi). Dengan berbagai cara, mereka memanfaatkan teknologi untuk meraih keuntungan.
Terkait dengan hal ini, maka mulai muncullah berbagai masalah. Misalnya penyebaran virus, hacking, pencurian dan penyalahgunaan identitas netizen (warga masyarakat internet), pembajakan karya intelektual, penipuan dan perampokan lewat internet dan lain-lain.  Sebagian besar permasalahan itu jika ditelusuri lebih lanjut pada ujungnya akan berakhir pada kepentingan material.
Pelanggaran atau gangguan privasi (kebebasan, keleluasaan pribadi) pengguna internet merupakan salah satu dari sekian banyak masalah itu. Ini terjadi karena sedikit demi sedikit data-data dan informasi pribadi masuk ke internet—yang sesungguhnya merupakan wilayah yang sangat terbuka, sangat mudah diakses siapa pun yang menguasai teknologinya. Tanpa terasa ketika kita membuat account, mengirimkan email, mengakses sebuah situs, mengunduh suatu file, chatting dengan teman, secara suka rela kita menyerahkan data-data, informasi pribadi kita ke internet. Hal itu terjadi karena kita menganggap informasi tersebut tidaklah bersifat rahasia. Namun, sesungguhnya tanpa sadar kita sesungguhnya sedang membuka diri kita seluas-luasnya kepada masyarakat pengguna internet. Informasi sepotong demi sepotong mengenai diri kita di internet bisa direkonstruksi dengan alat bantu dalam teknologi internet. Semakin banyak dan intensif kita terlibat di dunia internet, profil pribadi kita akan semakin mudah terkuak, dan hal ini suatu ketika bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
Di lingkungan kerja, misalnya, terbukanya privasi ini telah menimbulkan dampak lain. Banyak perusahaan dan institusi yang melakukan pengamatan kepada siapa email dikirimkan dan apa pula isinya. Perusahaan besar seperti Xerox, misalnya, bahkan memiliki tim khusus untuk mengawasi hal ini. Tahun 2003 American Management Association melansir hasil survei yang menyatakan bahwa sekitar 2/3 melakukan pengamatan elektronis di tempat kerja. Mereka merekam percakapan telpon, penggunaan email, dan memasang video pengawasan. Hal ini tentu saja mengganggu privasi karyawan atau pihak lain yang berhubungan dengan perusahaan tersebut.
Lebih jauh, jika kita mencoba memanfaatkan mesin pencari (search engine) seperti Google, Altavista, Alltheweb, dll., kita bisa terkejut ketika mendapatkan hasil pencarian atas satu kata kunci. Lebih-lebih jika kita memanfaatkan meta search engine yang akan memanggil berbagai mesin pencari, kita akan mendapati kenyataan bahwa dengan mudah orang melakukan rujuk silang (cross reference) antardata yang kita cari. Sering kali tanpa diduga kita mendapati posting email kita di suatu milis, atau data dan informasi pribadi kita yang sebenarnya tidak ingin kita publikasikan ternyata telah dibeberkan oleh pengguna lain.
Fenomena tersebut tentu cukup mengkhawatirkan. Belum terbayangkan bagaimana dampak dari semakin mudahnya orang membobol privasi ini di masa depan. Bagaimana jika informasi genetik atau biometrik seseorang, misalnya yang tersimpan di laboratoirum-laboratorium klinis, bocor dan bisa diakses oleh mereka yang menguasai teknologi ini? Tentu rekonstruksi profil kita di dunia maya akan semakin mudah. Siapa yang mau ditelanjangi di internet? [*]
----------------------------------------------------------------
*Tulisan ini disarikan dan ditulis ulang dari esai I Made Wiryana, “Mengapa Kita Biarkan Privacy Terkikis di Era Cyberspace” dalam From Germany with IT. Ardi Publishing, Yogyakarta: 2004.

2 komentar:

  1. Untuk menjaga keamanan di dunia maya tampaknya lebih sulit dari yang kita bayangkan...btw nice share Mr Rh. Widada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trims atas kunjungan dan komentarnya. Betul, ke mana arahnya dunia pasca internet memang sulit ditebak. Yang paling kentara adalah mereka yang menguasai dunia maya ini akan sangat mudah menarik keuntungan ekonomi. Pake akal sehat saja: jutaan/ milyaran data netizen yang sudah dikumpulkan oleh fb atau yahoo, misalnya,kan sangat berharga untuk riset pasar, penggambaran profil konsumen, dan kencenderungan perilaku massal lain. Saya yg awam ini ya cuma nebak-nebak. Siapa yang bisa beri pencerahan, silakan masuk.

      Hapus