Senin, 20 Juni 2011

hidup itu bermain-main

--tersebab anakku yang berbahagia

hidup itu bermain-main, ayah:
sepasang boneka bebek mengambang
di dalam bak mandiku
lalu kubuat mereka berenang
dan ayah berkuak-kuak sementara
membasuh mukaku sehabis sikat gigi

hidup ini bermain-main, ayah:
bola plastik kita tendang ke sana kemari
lalu kita bersorak girang bersama-sama
sementara bunda suapkan
seujung demi seujung sendok
sup ayam, wortel, dan brokoli
hingga lewat makan siangku yang membosankan

hidup itu bermain-main, bunda:
bayang-bayang jemari ayah di dinding kamar
menjelma pohon-pohon, garuda, dan bambi
si anak kijang yang manis pengantar tidurku

hidup itu bermain-main
maka bermainlah bersamaku!
--Maret-Juni 2011

Minggu, 19 Juni 2011

PLERED IBU KOTA MATARAM

Plered bekas ibu kota Mataram pada masa Amangkurat 1 kini hanya tinggal nama. Tak banyak peninggalan sejarah yang berupa bangunan-bangunan atau benda fisik lain. Artikel singkat ini berupaya memberikan sekelumit gambaran tentang Plered pada masa Amangkurat itu. Ini merupakan hasil sampingan dari riset untuk penulisan novel Gadis-gadis Amangkurat (Maret, 2011, Penerbit Narasi)

Kota Indah yang Menyimpan Tragedi
PLERED, pusat Kerajaan Mataram masa Amangkurat I (1646-1677) yang terletak +12 km ke arah tenggara dari kota Yogyakarta, dalam imajinasi historis boleh jadi merupakan ibu kota Mataram yang paling cantik dibanding masa sebelum dan sesudahnya. Bayangkanlah sebuah kompleks istana dengan danau buatan yang sangat luas dan batang-batang air di sekelilingnya, juga Pegunungan Seribu sebagai latar belakangnya! Itulah gambaran yang muncul dalam babad-babad dan catatan kolonial Belanda.
Namun, di balik keindahannya, Plered adalah panggung sejarah yang pernah mementaskan banyak drama kolosal yang tragis dan membuat ngungun. Tragedi politik, sosial, kemanusiaan, dan tragedi cinta (!) dengan “tumbal” yang kelewat besar pernah mengharu biru Plered yang kini hanya menjadi kota kecamatan di Bantul itu.
Konon, misalnya, 5000--6000 santri, ulama, dan para pengikutnya (termasuk ibu dan anak-anak) tewas dibantai atas perintah Amangkurat I. Peristiwa itu tidak lama terjadi setelah dia naik tahta. Alasannya, mereka itu adalah pengikut Pangeran Alit, adik sang raja yang dianggap membangkang dan telah pula dibunuh. Demikianlah menurut catatan Rijklof van Goens, utusan VOC untuk Mataram pada 1648-1654.
Plered juga menyimpan kisah-kisah cinta yang tragis. Misalnya kisah Nyi Truntum (Ratu Malang), Rara Hoyi, putri Surabaya yang menjadi rebutan antara Amangkurat I dan putranya. Dapat pula ditambahkan kisah legendaris Rara Mendut dan Pranacitra.
Kini, semua hiruk pikuk sejarah itu lenyap tanpa bekas. Kraton Plered hanya menyisakan situs sumur gumuling yang terletak di Dusun Kedaton, beberapa umpak (penyangga tiang) Masjid Agung, reruntuhan benteng kraton, dan tanah-tanah tinggi bekas tanggul. Selebihnya, pusat Mataram ini hanya tinggal nama yang dimiliki dusun-dusun seperti Kedaton, Keputren (tempat para putri), Kanoman (tempat putra-putra kerajaan), Kauman (tempat ahli agama), Sampangan (tempat Pangeran Sampang Madura), Gerjen (tempat abdi dalem gerji ‘tukang jahit’), Segarayasa (laut buatan), Pungkuran (belakang kraton).
Situs yang relatif masih cukup lengkap adalah makam Ratu Malang. Situs ini terletak di Gunung Kelir. Ketinggiannya 29 m di atas permukaan laut. Makam ini merupakan bangunan terakhir yang dibuat Amangkurat I, yakni pada 1668.
Tentang Ratu Malang ini, Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha bercerita begini. Susuhunan Amangkurat bertitah agar dicarikan wanita cantik. Pangeran Blitar mencalonkan Nyi Truntum, putri Ki Wayah. Namun ternyata Nyi Truntum sudah bersuamikan Ki Dalem, seorang dalang wayang gedok. Sang Susuhunan tak peduli, bahkan ketika diketahuinya bahwa Nyi Truntum sedang hamil dua bulan. Truntum tetap dijadikan istri dan diberi gelar Ratu Wetan. Raja benar-benar kesengsem padanya dan melupakan istri-istri lain. Inilah sebabnya Truntum dijuluki Ratu Malang (ratu yang ‘menghalangi’ istri lainnya).
Setelah Ratu Malang melahirkan, Sang Susuhunan makin mencintainya. Ia bahkan menitahkan untuk membunuh bekas suami Nyi Truntum sehingga perempuan ini merana. Dia jatuh sakit dan meninggal dengan gejala-gejala mencurigakan: muntah dan berak encer. Raja mencurigai istri dan selir-selir lain bersekongkol meracuni Ratu Malang. Tak ayal lagi, mereka semua dikurung oleh Susuhunan sampai mati kelaparan.
Jenazah Ratu Malang dikuburkan di Gunung Kelir. Susuhunan melarang siapa pun menutup kuburnya. Siang malam ia menunggui lahad yang terbuka itu. Kerajaan kacau. Susuhunan baru mau kembali ke Kraton setelah bermimpi bahwa Ratu Malang telah kembali kepada bekas suaminya. Dan jenazahnya didapati sudah membusuk pada keesokan harinya.


“Saya akan membangun kota di Plered…” (Amangkurat 1)
ERA MATARAM Plered di bawah Amangkurat I memang terasa getir dan kelam. Begitu banyak rakyat dikorbankan demi memuaskan ego sang penguasa. Jika kita bandingkan dengan era sebelumnya, masa Sultan Agung (1613-1645) yang gemilang, pemerintahan Raden Mas Jibus atau Amangkurat I itu benar-benar menjadi antiklimaks bagi keperkasaan Mataram.
Dan hal itu juga menjadi ironi bagi Sultan Agung. Raja gagah dan cerdas yang dua kali menyerang markas VOC di Batavia pada 1628 dan 1629 itu hanya menurunkan raja pengganti yang lemah dan kekanak-kanakan. Daripada menebarkan kekuasaan ke luar Mataram, Amangkurat I, putra Sultan Agung itu, malahan sibuk membangunjagang-jagang atau parit-parit pertahanan di sekeliling Kraton. Dengan begitu, dia secara pribadi merasa aman dari ancaman-ancaman luar.
Konon, karena kekhawatiran sang raja akan keselamatan dirinya itu pula, maka begitu malam tiba seluruh kompleks Kraton dibersihkan dari laki-laki. Ya, kecuali tentu saja Susuhunan Amangkurat I sendiri. Dan ribuan wanita, dari abdi dalem, gadis palara-lara, selir, istri-istri, hingga permaisuri dan prajurit pengawal, semua siap melayani dan melindunginya. Tugas pengawalan itu dilakukan oleh tiga puluh prajurit wanita yang cantik! Mereka disebut prajurit Trinisat Kenya.
Sikap kekanak-kanakan Sang Susuhunan pun terlihat dalam perilakunya yang meledak-ledak dan tanpa pikir panjang. Amangkurat I gampang sekali menjatuhkan vonis mati kepada siapa pun yang dianggap bersalah atau menghalangi kehendaknya. Tak peduli apakah itu saudaranya (Pangeran Alit), mertuanya (Pangeran Pekik), inang dan abdi dalem Keputren, apa lagi rakyat biasa (ribuan ulama pengikut Pangeran Alit, Ki Dalem yang istrinya direbut oleh Amangkurat I dsb.), semua dibunuh jika dianggap menentang sang raja. Yang menggelikan, Susuhunan pernah secara serta merta memerintahkan untuk menebang delapan belas pohon beringin di Alun-alun karena pohon-pohon itu menghalanginya bermain layang-layang! Demikian catatan yang dibuat Jonge dalam Opkomst, Jilid VI hlm.94.
Kraton Plered itu sendiri boleh dikatakan lahir karena ego seorang anak yang tak mau tinggal di tempat kediaman ayahnya. Simaklah bagaimana Babad Tanah Jawi berkisah tentang perpindahan kraton Mataram dari Karta ke Plered.
“Segenap rakyatku, buatlah batu bata! Saya akan pindah dari Karta, karena saya tidak mau tinggal di bekas (kediaman) ayahanda. Saya akan membangun kota di Plered.” Demikian sabda Amangkurat I tidak lama setelah naik tahta pada 1646.
Sabda pandita ratu! Titah sang raja memang harus terwujud. Bahkan jika hal itu harus mengorbankan kehidupan dan kesejahteraan rakyat. Maka tahun-tahun berikutnya, hingga berbilang belasan tahun, adalah serangkaian panjang pembangunan pusat nagari Mataram yang bernama Plered itu.
Seolah tanpa henti ribuan rakyat dikerahkan untuk membangun benteng kraton, masjid, hutan perburuan (krapyak), serta makam-makam keluarga raja. Yang paling terkenal adalah pembuatan bangunan-bangunan air dan “laut” buatan (Segarayasa) di sebelah tenggara Kraton. Nama Plered sendiri konon berarti ‘tanggul’.
Begitulah, Plered adalah pusat kota Mataram yang dikepung laut buatan dan batang-batang air. Gambaran itu sungguh memesona. Namun, siapa sangka begitu banyak kisah pilu terjadi di sana. Dan kelak, Plered pun runtuh secara mengenaskan.
Runtuhnya Istana Plered
Pada 28 OKTOBER 1662 Residen Jepara, Luton, menerima surat yang sebagian isinya “meramalkan” gonjang-ganjing Kerajaan Mataram Plered. “…dapatlah diperkirakan suatu saat Raja (Amangkurat I—red.) akan mengalami keguncangan besar dalam kerajaannya.” (Afgand briefboek—surat Kompeni dari Batavia ke Belanda, 1662, hlm. 557). Tetapi sebelum saatnya tiba, sejarah harus menunggu lima belas tahun lagi untuk mencatat keruntuhan itu.
“Ramalan” itu masuk akal. Isyarat-isyarat buruk itu memang sudah tampak sejak suksesi kekuasaan. Sejak awal, konsolidasi politik Mataram di bawah Amangkurat I tidak cukup kuat. Raja banyak berkonflik dengan kerabatnya, misalnya dengan Pangeran Alit (adiknya), Pangeran Silarong dan Pangeran Purbaya (paman-pamannya).
Susuhunan pun kerap menyingkirkan punggawa yang cakap mantan orang kepercayaan Sultan Agung, yakni Tumenggung Singaranu dan Pangeran Purbaya. Sebagai gantinya, dia justru mengangkat orang yang cuma gemar menjilat seperti Wirapatra.
Menjelang tamat kekuasaannya, Amangkurat I banyak berkonflik dengan putra mahkotanya. Antara lain ialah berebut perempuan! Hal itu bertambah runyam karena keenam putra Amangkurat I pun ternyata bermusuhan, baik itu terselubung maupun terang-terangan. Celakanya lagi masing-masing pangeran memiliki pengikut yang setia!
Semua itu merapuhkan Mataram dari dalam. Politik “luar negeri” pun berjalan buruk. Amangkurat I banyak melakukan klaim kekuasaan sepihak ke daerah-daerah seberang seperti Palembang, Jambi, Sukadana (Kalimantan), Banten, Batavia, dan Blambangan. Tapi, semua itu hanyalah anggapan pongah Mataram, tanpa ada bukti. Nafsu besar tenaga kurang!
Kompeni di Batavia memang membayar “upeti” ke Mataram. Tapi itu semu belaka, bukan tanda takluk. Banten tetap aman di ketiak Batavia. Blambangan lepas dari Mataram kemudian menjadi mangsa Bali, atau menjadi kerajaan kecil. Di luar Jawa, satu-satunya yang tetap setia hingga keruntuhan Mataram hanyalah Palembang. Itu pun karena Palembang merasa takut dengan musuh Mataram, yakni Banten dan Jambi yang sedang berkembang. Setelah 1660 boleh dikata tidak ada lagi sisa kekuasaan Mataram di luar Jawa.
Maka keruntuhan Mataram Plered tinggal menunggu waktu. Apalagi di sekitar pusat Mataram sendiri telah bersiaga “kekuatan-kekuatan lokal” yang secara tradisional menjadi ancaman bagi wangsa Mataram. Mereka adalah klan Ki Ageng Giring (Gunung Kidul) dan klan Panembahan Kajoran (Tembayat Klaten).
Menurut mitos, Ki Ageng Giring adalah pemilik “kelapa bertuah” yang airnya bisa menjadikan orang yang meminumnya menurunkan raja-raja Jawa. Tetapi karena suatu kebetulan, justru Ki Ageng Pemanahan—sahabat Giring—yang meminum air kelapa itu. Giring kecewa. Tapi apa boleh buat, air kelapa itu sudah habis! Pemanahan kemudian berjanji bahwa keturunan Giring kelak juga mendapatkan tuah air kelapa itu, meski hanya satu kali.
Adapun Panembahan Kajoran menjadi ancaman serius karena punya “kekuatan” spiritual dan sakti. Dialah keturunan Sunan Tembayat, tokoh spiritual yang disegani. Sultan Agung sendiri pada 1633 berziarah ke makam Sunan Tembayat untuk memperoleh semacam “berkah”. Apa jadinya jika Kajoran itu didukung Trunajaya, menantunya dari Madura?
Berbagai kekuatan itu, dan jebolnya tanggul kesabaran rakyat melawan tekanan penindasan, seolah bergabung untuk menjungkirkan tahta Mataram. 28 Juni 1677 Plered jatuh. Amangkurat I melarikan diri bersama sedikit pengikut dan kerabatnya serta sejumlah harta pusaka kerajaan ke arah barat. Enam belas hari rombongan raja yang kalah itu tersaruk-saruk melalui Imogiri, Jagabaya, Rawa, Bocor, Petanahan, Nampudadi, Pucang, Ambanan, Banyumas, Ajibarang, hingga akhirnya di Winduaji Susuhunan meninggal, lalu dimakamkan di Tegalwangi pada 13 Juli 1677.
(Rh. Widada)

Rabu, 15 Juni 2011

Perempuan di Titik Koma

Rh. Widada


YERMA yang letih mulai membuka lembar-lembar proof[1] itu di meja kecil, dalam kamar kontrakan yang kecil. Dengan cermat ia kemudian membaca, menelusuri huruf demi huruf di dalamnya. Yos, suaminya, memandangnya lekat-lekat sambil berbaring-baring di belakangnya. Teringat Yos akan mimpi buruknya: Yerma menyusut jadi sekecil huruf 12 point.
Pada awalnya Yos dan Yerma sangat bahagia ketika Yerma diterima sebagai proof reader di sebuah penerbitan. Meskipun kecil dan baru berkembang, Gabriel Books adalah penerbit yang bergengsi. Yang lebih penting, kini mereka akan mempunyai sumber keuangan lain kecuali dari surat kabar lokal tempat Yos menjadi wartawan.
Dan bayangan akan kehidupan rumah tangga yang lebih menyenangkan mengganggu tidur pasangan muda itu. Mereka tertawa dan merasa malu sendiri jika mengenang malam-malam setelah Yerma memasuki hari-hari kerjanya. Satu per satu mereka menyebut barang yang hendak mereka beli nantinya. “Mesin cuci untuk calon ibu,” kata Yos. “Blender untuk bikin jus wortel,” kata Yerma. “Kipas angin besar,” kata Yos. “Kulkas,” sahut Yerma. “Ya, ya kulkas,” Yos setuju. “Kredit sepeda motor.” Dan setelah bosan berkhayal, mereka bercinta habis-habisan.
Namun, seperti layaknya sebuah kisah cinta yang agung, tak semudah itu mereka mengukir episode berikutnya. Di suatu sore yang panas, Juan Kareem atau yang populer disebut JK, si kepala editor Gabriel Books, memanggil Yerma.
“Yerma, sudah Anda lihat buku kita bulan ini.”
“Sudah, ada masalah Pak?”
“Ok. Anda memang masih baru rupanya.” JK diam sejenak, lalu berkata, “Panggil Bung Noorham.” Yerma bergegas keluar ruangan. Dengan bertepuk kecil ia memanggil Noorham, editor sastra Gabriel Books. Begitu Noorham masuk, JK langsung berkata, “Bung, lihat ‘master piece’ kita bulan ini. Dan kasih tahu Yerma.”
Bung Noorham segera membuka-buka buku itu, halaman demi halaman, dengan tergesa. Pandangannya menyapu bolak-balik. “Daftar isi, Nak. Daftar isi…!” JK tak sabar. “Sejak kapan Gabriel memulai daftar isi dari halaman verso?[2] Macam pemain baru saja! Bung Noorham, you mustinya masih dampingi Yerma. Minimalkan risiko! Gabriel Books sedang naik daun. Lihat saja, bahkan Pustaka Hermes yang punya jaringan pasar sendiri di dalam dan luar Jawa itu, tanpa malu-malu mengekor tema dan desain buku kita. Gabriel Books sedang diamati banyak pihak, bukan saja oleh para pembaca, tapi juga penerbit-penerbit besar, dan investor. Jadi, semua saja, jangan bikin sesuatu yang fatal.” Dan menatap ke arah Yerma, JK berkata, “Pajang ‘hasil karya’ pertama Anda ini di ‘ruang pamer’,” sambil menuliskan sesuatu di buku itu.
“Ruang pamer” adalah sebuah almari kabinet di ruang redaksi yang di dalamnya dipajang buku-buku dalam keadaan terbuka. Di atas halaman buku-buku itu, coretan-coretan tinta warna merah seolah meneriakkan cemoohan JK, seperti “Best teler!”, “Buku terba(l)ik 1999!”, “Buku terlarang!”, “Buku kecil, salah besar!”, “Buku termahal (Rugi 50 juta, Broer)!”, “Buku tahan banting!” Dan untuk buku baru dengan daftar isi di halaman kiri itu, JK menulis “Master Piss, Buku Kiri Baru!” JK memang gemar mencemooh. Mungkin hal itu adalah ekspresi yang tak disadarinya sebagai anak dari pemilik perusahaan. Di luar itu, ia berusaha keras menunjukkan bahwa ia pantas menjadi kepala editor Gabriel Books —bukan karena dia adalah anak sang pemilik, melainkan karena kapasitasnya (JK “lulusan Amerika” dan pernah magang pada penerbit internasional).
Setiap kali Yerma membaca tulisan “Master Piss” itu, bayangan kegagalan masa percobaan bertumbuh besar di kepalanya. Karenanya, Yerma bekerja lebih cermat. Halaman-halaman proof itu dibacanya lagi dan lagi meskipun kadang membuatnya mual.
Namun, nyaris di tiap buku terbaru berikutnya JK masih saja dapat menemukan tanda titik yang hilang, tanda koma yang tidak pas, spasi yang berlebih, kesalahan penggalan, dan kesalahan-kesalahan lain serupa itu. Lalu seperti gaya bahasa seorang kolumnis sohor, JK sering berkata gusar, “Gabriel Books tak menuntut Anda bekerja perfect, tanpa noda. Kita tahu, itu mustahil. Hanya Tuhan yang bekerja macam itu! Tapi, tolong, berkhidmatlah pada perkara kecil. Belajarlah untuk peka pada detail. Sebab dengan begitu, artinya kita tengah membangun kebesaran. Jadi, saya tak ingin lagi ada penggalan yang tidak pas, ejaan yang salah kaprah, dan kesalahan serupa yang terus diulang-ulang!”
Maka memasuki kerja bulan ketiga, Yerma mulai membawa pulang halaman-halaman proof untuk diperiksanya di rumah. Yerma benar-benar tak ingin melewatkan satu titik pun sehingga suaminya sering cemburu pada halaman-halaman proof itu. Kepadanya, Yerma berkata bahwa malam-malam yang lebih indah akan menjadi milik mereka begitu masa percobaan itu habis. “Toh, tinggal tiga bulan,” tambahnya.
Namun, tiga bulan adalah waktu yang cukup panjang, sedangkan momentum lebih sering berhitung dalam detik. Pagi harinya, persis setelah malamnya Yerma menenangkan suaminya tentang penantian yang tinggal tiga bulan itu, JK memintanya masuk ke ruang kepala editor. Yerma sedikit heran, sepagi itu, bahkan sebelum karyawan-karyawan lain datang, JK telah duduk di ruang kerjanya dengan buku-buku terbuka dan komputer menyala di mejanya.
“Yerma, saya dengar dari Bung Noorham, Anda sering membawa pulang pekerjaan,” JK mulai bicara dengan gaya khasnya, tenang dan percaya diri, setelah mempersilakan Yerma duduk.
“Begitulah, Pak.”
“Bagus, saya senang Anda punya inisiatif,” JK tersenyum dan Yerma baru sadar bahwa JK bisa seramah itu. “Saya berharap pihak manajemen Gabriel Books cukup jeli.” Yerma tak tahu apa maksud ‘cukup jeli’ itu. Apakah itu artinya masa percobaannya dipersingkat? Mendapat reward? Ataukah …? Ah, Yerma memilih untuk tidak banyak berharap.
“Omong-omong, konon basic Anda psikologi?”
Yerma mengangguk.
“Bung Noorham pernah mengeluh, bahwa ia mulai kewalahan menangani seri psikologi yang selama ini disatukan dengan sastra dan filsafat. Seri Psikologi untuk Semua Orang mendapatkan respons bagus di pasaran.” JK berkata dengan nada bangga. Lalu sambil menunduk dan mengelap kacamatanya, ia melanjutkan, “Anak itu butuh asisten.” Setelah mengenakan kacamatanya lagi dan bergumam “oke,” JK bertanya, “Anda biasa menulis?”
“Sekadar pernah. Tentang pendidikan dan cerita anak-anak.”
“Cukup bagus untuk magang pada Bung Noorham. Ia guru yang hebat. Saya yakin Anda bisa belajar cepat. Dan itu sangat masuk akal. Saya sangat mendukung Bung Noorham untuk mengangkat asisten, tapi entahlah pihak manajemen. Mereka enggan menambah anggota dewan redaksi. Efisiensi, efisiensi! Itu saja yang mereka dengungkan. Saya harap mereka juga mulai berpikir bahwa rentangan sayap Gabriel Books yang kian lebar itu butuh energi yang makin besar pula.”
Yerma terdiam. Suatu masalah yang rumit membayangi benaknya. Apa jadinya jika Yerma, si “plonco” itu dalam waktu singkat langsung masuk jajaran dewan redaksi, yah meskipun sebatas magang asisten editor? Tidakkah ada Hilda yang lebih senior? Bagaimana pula nanti menghadapi Mas Bachtiar, koordinator tata letak yang telah belasan tahun di Gabriel Books dan sering menggerutu, “Silakan diseting sendiri kalau masih belum puas!” Juga Neti di bagian administrasi, yang suka menyuruhnya dengan penuh gaya untuk membantu mengoreksi surat-surat? Belum lagi menghadapi Mang Kahar dan anak buahnya di percetakan. Mereka dengan semacam “kesadaran kelasnya” telanjur menempatkan jajaran redaksi sebagai orang-orang pintar yang digaji besar hanya untuk menuding kesalahan dari ruang yang nyaman.
Namun, sebenarnya ada yang lebih rumit yang mulai mencengkeram Yerma. Cengkeraman itu datang berbarengan dengan genggaman tangan JK yang memberinya selamat atas kinerja Yerma yang baru saja dipujikannya. Meskipun benar Yerma telah bekerja maksimal, ia merasa ucapan selamat dan jabat tangan itu terlalu dicari-cari. Lebih-lebih sebelum Yerma meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba dengan canggungnya JK memuji baju yang dikenakannya. Sejak kapan JK peduli dengan warna baju budak tinta? Namun, sebagai sopan santun, Yerma mengucapkan terima kasih sewajarnya. Dengan itu Yerma berharap bahwa bayangan samar tentang JK yang mencoba memerankan diri sebagai Don Juan akan hilang. Mungkin JK baru saja membaca buku-buku semacam “Manajer yang Tersenyum” atau “Memimpin Manusia”.
Menjelang istirahat, ikon pesan di layar komputer Yerma yang terhubung dalam LAN mengisyaratkan ada pesan masuk. Buru-buru Yerma membukanya. Ternyata dari JK. Tulisnya, “Yerma, tolong, saya dibungkuskan makan siang kalau ke kantin. Bisa, kan?” Yerma membalas pesan itu dengan “Ok.” JK memang kadang kala makan di kantin depan percetakan. Tapi, minta dibungkuskan pada karyawan adalah hal baru.
Saat menyerahkan makan siang ke ruangannya, JK mengucapkan terima kasih dengan ramahnya. Dan Yerma merasa JK makin aneh ketika didapatinya tanpa sengaja lelaki itu mencuri pandang ke arahnya melalui cermin di wastafel saat cuci tangan. Tanpa menunggu lebih lama, Yerma langsung berpamitan.
Hari-hari berikutnya, si JK makin sering minta dibungkuskan makan siang pada Yerma. Dan banyak yang bilang JK sekarang jarang marah-marah lagi. Yerma mau melenyapkan pikiran bahwa perubahan JK itu tersebab oleh dirinya, bahwa JK sedang bahagia karena mulai jatuh cinta padanya. Itu sungguh sinting. Ia tahu bahwa meskipun masih muda, JK sudah punya dua anak. Dan lagi, bagi Yerma, kepercayaan yang diberikan Yos padanya sangatlah besar dan mahal.
Juan Kareem pasti lebih sinting dari Don Juan jika dia berpikir untuk memanfaatkan gayanya yang matang, kuat, intelek, dan tentu saja kantong tebalnya untuk memikat istri orang. Meskipun bukan pahlawan publik, JK setidaknya pernah muncul di majalah perbukuan sebagai orang buku yang punya visi, idealisme, dan integritas moral.
Namun, sore itu sehabis jam kerja saat Yerma dipanggil JK ke ruangannya, Yerma mulai kesulitan untuk membayangkan kata-kata semacam “idealisme” atau “integritas” itu melekat pada diri JK. Pada mulanya JK saat itu memang mengeluhkan tentang nasib dunia penerbitan di sebuah negara yang brengsek. Tetapi entah bagaimana caranya, JK pada ujung-ujungnya berkeluh tentang masalah rumah tangganya.
Yerma paham apa artinya jika seorang laki-laki mengeluhkan pasangannya pada perempuan lain. Yerma tak akan jatuh kasihan pada ular biludak. Maka ia menjawab, “Pak Juan, Anda seharusnya pergi pada psikolog. Atau menulis surat ke kolom konsultasi rumah tangga. Saya tak buka praktik, Pak! Selamat sore!” Yerma berdiri. Namun dengan sigap tangan JK yang kukuh menangkap pergelangan Yerma.
“Pak Juan, jangan macam-macam!”

JK tetap mencengkeram dan menarik tangan Yerma sambil berkata, “Saya mohon jangan salah paham Yerma. Tenang dan duduklah. Dan jangan berpikir saya ini pantas masuk dalam berita kriminal di televisi.” JK melonggarkan cengkeramannya. Yerma kembali duduk, lebih tenang.
“Ok. Begini lebih baik. Dan kita akan bicara dengan tenang.” Tanpa sadar JK mengelus punggung tangan Yerma. Darah Yerma tesirap, terlebih ketika dengan selembut dan seelegan mungkin, JK mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Yerma. Cih, rutuk Yerma dalam hati, rupanya begini saja editor hebat itu. Yerma dengan sebat menarik tangan kirinya yang dipegang JK, lalu secepat kilat pula meraih asbak gelas di meja JK dengan tangan kanannya.
“Awas kalau Pak Juan kurang ajar lagi!” Yerma mulai melangkah mundur. Namun, pada saat yang sama JK melompati meja di depannya untuk menjangkau Yerma. Dengan panik Yerma melemparkan asbak itu ke arah JK. Lelaki itu terjatuh sambil memegangi mata kirinya yang perih karena abu rokok dan tangan kanan menggenggam tali tas Yerma yang putus. Yerma kabur, tak peduli pada tasnya yang terjatuh dan menghamburkan segala isinya: dompet, sapu tangan, permen, pembalut wanita, dan koin recehan yang menggelinding ke segala arah.
Di pintu gerbang, Mang Mu’lim penjaga malam Gabriel Books terheran-heran melihatnya berlari-lari. “Masih ada bus kok Neng!” serunya. Hampir saja sebuah sepeda motor menyambarnya ketika Yerma menyeberang jalan yang memisahkan gedung penerbit Gabriel Books dengan percetakannya.
***
TANPA menunggu Yos mandi dan makan, Yerma langsung saja bertutur pada Yos begitu suaminya itu pulang. “Mas, aku mau berhenti kerja saja.” Yos tentu saja terkaget-kaget. Bukankah selama ini Yerma yang ngotot ingin bekerja, dan mati-matian berusaha lolos dalam masa percobaan?
Yos cuma memandang istrinya.
Yerma mulai terisak lalu menghambur ke bahu Yos. Tanpa banyak kata, Yos membawa istrinya ke kamar. Juga tanpa melepaskan jaket, topi, dan tas di lengannya Yos mendekap Yerma dan berusaha menangkap ceritanya yang meloncat dan terputus-putus oleh emosi dan isakan.
“Benar-benar ular!” Yos tertegun. Teringat olehnya profil JK dan Gabriel Books yang seminggu lalu muncul di korannya dengan judul besar “Fenomena Baru Perbukuan”. Pelan Yos meraih bahu Yerma yang kini lebih kurus. Yerma telah bekerja macam kuda beban selama empat bulan. Dan Yos rasanya ikut menaikkan beban di pundak istrinya itu karena penghasilannya yang kembang kempis.
Mengingat itu semua dan juga malam-malamnya yang dipenuhi cemburu pada lembar-lembar proof, dengan penuh amarah Yos mendesis, “Yerma, bukan kamu yang harus minggir. Ular biludak itulah yang harusnya dipecat.” Yerma kembali merasa sesak. Jauh di dasar hatinya, ia pun membenarkan kata-kata Yos. Dan ia pun sangat ingin tetap membantu Yos menambah penghasilan. Namun, dapatkah Gabriel Books menyingkirkan anak majikan yang “visioner dan idealis” itu demi membela budak tinta macam dirinya? Lagi pula, apakah orang-orang bisa percaya bahwa JK yang pintar, tampan, dan kaya itu telah berlaku kurang ajar padanya? Yerma bisa saja memaafkan JK jika itu dikehendaki. Namun, bagaimana bisa ia bertemu JK tanpa rasa was-was?
Lelah karena mengejar-ngejar jawaban, Yerma akhirnya tertidur juga. Lama sekali Yos memandangi istrinya. Hembusan nafasnya yang halus mulai teratur. Yerma berangkat lelap meninggalkan kerlip air di sudut matanya. Dalam posisi sedikit meringkuk, perempuan itu menyerupai tanda koma. [ ]
______________________
1. Cetak coba halaman buku yang masih harus diperiksa.
2. Halaman buku di bagian kiri, lawannya recto.

Yogya, 2008

---Dimuat di Mingu Pagi. No. 11 Th 61 Minggu III Juni 2008

Jumat, 10 Juni 2011

For Elisa

Short Story by Rh. Widada

What is a love like that melts a night into a glass of coffee and transforms the soul of an old man into a restless wisp of cigarette smoke? If you want to know the answer, ask Elis!
"Norman, please, don't forget this blanket if you're gonna sit on the veranda. The draft, particularly at night, is no good for your rheumatism. Then, quit smoking or cut it down, please, honey?.”
Old Norman clammed up, taking a deep puff from his cigarette. He straightened out his legs, resting them on the table.
“Norman, do I have to keep on reminding you: Never ever put your legs on the table, please?”
Norman said nothing.
“Norman, darling....”
Hurriedly, Norman pulled his legs down to the floor.
“Norman, here's your coffee.”
Norman, Norman, Norman. Only God knows how many thousand or million times Elis has called his name since they met in senior high school. And the word “honey” was only added to it in the third love letter after Elis was sure that Norman was really happy with it. This night, however, Norman felt that something ephemeral had stealthily sneaked into the endearing call.
The telephone rang. Elis rushed in.
“Hello, good evening, could I talk to Mr. Norman, please?” said a voice at the other end of the line.
“Good evening! A moment please.” Elis hurried to the veranda
“Norman, honey, for you.”
Lazily, Norman walked in to answer the phone.
“Good evening, Mr. Norman.”
Norman did not say a word, his thoughts were still wandering about the veranda.
“Hello, am I talking to Mr. Norman?”
“Oh, sorry. Oh, I don't know.”
“Ah, you must be kidding, Mr. Norman”
“I'm serious. Sorry, well..., it's very difficult to explain.”
“It's easy, isn't it? What you have to do is just say yes, right or not.”
“It isn't. I'm finding it difficult.”
“Are you still teaching world literature?” the caller said, clearing his throat.
“Yes!”
“Then, you must be Mr. Norman.”
“That's usual!” Does it mean that every one teaching world literature must be Mr. Norman?”
“OK, OK. Are you Elis' husband?”
“Yeah, right”
“It's obvious then. You must be Mr. Norman. It's easy, isn't it?”
“You always take things easily!”
“Mr. Norman, life would be more complicated if we didn't. Are you sure that you are the real son of your parents. I'm afraid you are an adopted son.”
Norman kept silent, letting the man blabber.
“Are you pretty sure that the Mrs. Elis who has been living together with you for quite sometime really loves you?.”
“She is happy.”
“Better put it this way -- she looks happy.”
“We have kids.”
“That's natural, sir.”
“I don't give a damn!”
“Ah, precisely, sir. I-don't-give a-damn. That's one of the requirements to get happiness.”
“Go to hell!”
“Much more, aren't you aware that...”
Norman slammed down the receiver. But the voice from the end of the line penetrated his mind, echoing in his ear:
“Now, you've slammed the receiver, refusing to compromise. Against dialogs. That's the only precondition to get real happiness.”
Damn.
“Elis”.
“What's up, Norman, dear?”
“What is love? Do you believe in love?”
“Norman, you're tired. Get some rest.”
“Please don't play tricks on me Elis.”
Elis gazed at Norman's eyes, piercing his thick glasses.
“Ah, my poor Norman. Honey, perhaps you should forget about reading for a couple of days. We feel tormented if we read too much”
“Dear Elis, please answer my question!”
“Norman, how should I answer your question. Listen Norman, it is not the right time for a quarrel.”
“Elis ...” Norman was tongue-tied. He held Elis in his arms.
“Forget it, don't get carried away easily!”
“The world without feelings is just like hell.”
“OK, dear. Let's get some rest.”
“Elis, what is love like?”
The telephone rang.
“Norman, the same caller. He said that tomorrow you will have to speak for the second session, after the noon prayer, at one o'clock.”
“Tell him to pick me up at the campus.”
“Silence filled the living room.”
Elis gazed at Norman. Everything is under control, isn't it? And you don't have to worry about the question.
But Norman was still worried. The question kept haunting him until he felt asleep. Only God knows whether he was still perturbed by the question until the following morning, when Elis kissed his forehead and found his body cold and stiff.
What is love like? Ask Elis!
(*)

The Jakarta Post, Jakarta | Sun, 10/14/2001
-- Translated by Faldy Rasyidie

Haiku Tengah Hujan

Cerpen Rh. Widada

Langit malam bermendung tebal. Udara panas. Dengan hentakan keras, Ben membuka  pintu kamar kosnya. Terdengar sesuatu terbentur daun pintu, disusul  suara menguik keras. Pintu terbuka separo. Seekor pudel terguling di depan pintu, kedua kaki depannya meraih-raih udara sebelum akhirnya ia berhasil kembali tegak di atas keempat kakinya yang penuh lumpur.
            “Hai ada ‘anak’ tersesat rupanya?” Ben menyapa anjing itu. ”Kecebur di selokan ya Bung!” Si pudel bergidik, maka mencipratlah  lumpur ke mana-mana dari rambut gimbalnya. Sebutir pasir mampir ke mata Ben.”Dasar anjing!” serta-merta Ben mengambil sapu lalu mengayunkannya ke arah perut si pudel. Namun, ayunan sapu itu terhenti demi dilihat oleh Ben rambut gimbal si pudel di sekitar kupingnya. Bercak-bercak di situ bukan lumpur semata. Ada campuran warna merah kecoklatan di sana.
            “Kenapa dengan kupingmu Nak? Habis berkelahi dengan preman pasar ya?” Ben membungkuk dan memeriksa kepala si pudel. “Ya Tuhan, apakah anjing-anjing pasar itu suka makan kuping?” Telinga pudel itu  ternyata tinggal yang kiri. “Dengar kawan, meski kamu telah berlaku kurang ajar dengan lumpur dan rambut gimbalmu itu, bukanlah tabiatku untuk membalas orang yang sedang terluka. Oke, tunggu sebentar.”
Ben masuk kamar dan kembali dengan membawa kapas, rivanol, dan iodin. Lalu ia mulai membersihkan luka-luka anjing. Disibakkannya rambut gimbal anjing itu, “Kamu pasti penggemar berat Bob Marley!” Tanpa sadar Ben kemudian menyanyi-nyanyi kecil, “No women no cry…,   tapi perempuan bisa bikin kamu nangis Bung! Tanpa perempuan, kamu akan merana! Tapi, sudahlah. Aku tak mau omong tentang perempuan.”
Ben berhenti menyanyi-nyanyi. Sunyi memenuhi udara; dan tambah sunyi oleh dentingan genta-genta di depan pintu yang diayunkan angin. Ben menghela nafas panjang. Genta-genta itu hadiah dari Naida setelah Naida menamatkan studinya di Jepang. Dan dentingan genta-genta itu ternyata kemudian tak lebih dari lonceng kematian cinta Naida untuk Ben. Yukio San menyusul Naida ke Indonesia, dia bilang  tak kuat menahan rindu.
Apakah cinta memang keparat tak kepalang tanggung? Naida bilang, “Yukio San adalah pria lembut. Di taksi menuju bandara Narita, ia titikkan airmata dan bilang ingin menikahiku. Ben, sayangku, aku mencintai dua pria sekaligus. Dosakah aku?” Ben yang selalu ingin menjunjung tinggi kejujuran sungguh-sungguh harus menghargai pengakuan Naida. Dan itu pahit benar .
Ben memberi kebebasan kepada Naida untuk memilih: Ben atau Yukio. Dan si Jepang lebih beruntung. Apakah itu tersebab Yukio adalah seorang dosen, seorang doktor sejarah Asia yang cemerlang, sedangkan Ben ‘cuma’ pelukis yang baru mencari identitas? Ben tidak tahu. Yang jelas kini Naida tinggal di Tokyo sebagai istri Yukio San.  Naida, aku ingin melukismu dalam kimono, begitu Ben sering melamun.
“Tahan sedikit Bung, hanya perih sebentar. Kalau sudah sembuh nanti, kamu pasti tampak lebih gagah dengan sebelah telinga saja. Kamu bisa ceritakan pada teman-teman kecilmu, betapa sengitnya kamu berkelahi dengan anjing-anjing pasar itu.” Si pudel mendengus dan menguik senang. “He, he, apa? Kamu pikir cewek-cewek akan kagum dengan telingamu. Dasar anjing buaya!”
            Setelah membubuhi kuping si pudel dengan iodin, Ben menyodorkan air dalam
cawan plastik pada si pudel. “Sorry cuma air putih dan aku nggak punya makanan kecil. Lagi pula apakah bedanya kopi dan air ledeng bagimu?” (Dulu Naida selalu membawakan makanan kecil, rokok, atau sebungkus kopi tumbuk asli kesukaan Ben jika ia mengunjungi Ben). Si pudel dengan rakus segera minum sampai puas.
“Nah, kamu kini sudah mendingan. Kamu boleh pergi. Terus terang aku tak suka anjing. Lagi pula, pasti tuanmu akan mencari-carimu. Hus, hus, sana pergi sebelum aku jengkel!” Ben menyorong si pudel dengan sapu, namun si anjing malah mendekam bersitahan sambil menatap Ben dan menjulur-julurkan lidahnya. Lalu ia mulai mengendus-ngendus lantai, dan  akhirnya mengendus keranjang sampah di depan teras lalu menumpahkan isinya.
 “Apa lagi, Nak? Lapar? Baiklah, aku tidak akan kepalang tanggung menolongmu.” Ben masuk lagi ke kamar dan kembali dengan sebungkus mie instan di tangan. “Dengar, ini jatah sarapanku besok pagi. Aku malas memasak untukmu. Makan saja mentah-mentah; ini tak terlalu buruk bagi seekor anjing, bukan?” Ben membagi mie keringnya lalu menyodorkan sebagian pada si pudel. Anjing itu segera mengendus, menjilat, dan memakannya sedikit. Lalu ia meninggalkan mie itu dan kembali mengendus-endus mengitari teras.
“Dasar anjing tak tahu diuntung. Masak kamu tak mau makan jatah sarapanku. Kamu pikir karena tampang borjuismu itu, kamu boleh menghina dan  menginjak harga diriku. Aku memang cuma pelukis nggak laku, tapi aku punya visi besar, Bung!” Ben menyodok perut si pudel agak keras. Anjing itu mengaing kesakitan dan terguling-guling. “Andai kupingmu tidak sakit, pasti kutendang kepalamu.” Namun, si pudel tetap tak mau pergi. Ia hanya mendekam ketakutan, kepalanya menempel ke lantai.”Maaf Bung aku
kalap. Tapi, bagaimanapun kamu harus pergi. Sebenarnyalah aku tak suka anjing.”   
Ben menggendong pudel itu. Dengan bersepeda ia bawa pudel kotor itu pergi. Ben ingin melepaskan anjing itu jauh-jauh dari kamar kosnya. Sampai di sebuah taman, ia berhenti. Setelah mengelus beberapa kali kepala si pudel, ia meletakkan si pudel di bawah sebuah bangku taman. Cepat ia berbalik dan mengayuh sepedanya kuat-kuat.  Anjing itu berusaha mengejar. Ben mengayuh sepedanya lebih kuat. Dan si pudel jauh tertinggal. Sengaja Ben mengambil jalan pulang memutar untuk makin membuat bingung si pudel. Lega, begitu pikirnya ketika ia sampai di kamar kost tanpa si pudel di belakangnya.
Kini kembali ia sendirian di kamarnya. Di antara palet, cat, kuas, pisau lukis, ia termangu menghadapi kanvas kosong. Ia ingin Naida ada di dalam kanvas itu. Tapi setelah menatap kanvas berjam-jam, Ben tak juga menggoreskan apa pun di sana. Terlalu banyak warna dari Naida. Terlalu banyak goresan untuk Naida. Dan itu dirasainya perih—apalagi membayangkan Naida dalam kimono. Tapi celakanya, Ben ingin melukisnya.
Lelah karena terhimpit antara keinginan dan rasa tak berdaya, Ben tertidur dengan kepala tertumpu pada kursi dan tangan menggenggam kuas. Ia terbangun ketika tempias air hujan bersama angin menyerbu  mukanya melalui jendela dan pintu kamar yang masih terbuka. Setengah sadar ia lihat jam dinding: sudah lewat tengah malam. Tempias air hujan dan angin makin kencang, menghantam dan menghempaskan kalender-duduk dari atas meja. Genta-genta di depan pintu berkelining ribut. Angin benar-benar menggila. Dan sesekali halilintar menyambar.
Ben beranjak hendak menutup pintu dan jendela. Dilihatnya tempat sampah yang terguling itu; isinya makin berserakan. “Rupanya akan terjadi hujan prahara malam ini. Ya, Tuhan bagaimana dengan si gimbal borjuis itu? Ah, pasti ia bisa berteduh. Tampaknya ia cukup pintar dan berani. Tapi, dia sedang terluka dan kelaparan. Sekarang tentu ia kedinginan. Tidak, tidak…, aku tak salah. Apa yang salah dariku kalau aku tak suka dan tak mau direpoti oleh seekor anjing. Tapi dia terluka. Tentu perih sekali telinganya. Tentu perih, aku sangat tahu itu, aku merasainya.”
Genta-genta di depan pintu makin ribut dipermainkan angin ketika Ben mengenakan jas hujan lalu mengeluarkan sepeda. Lima tahun yang lalu ia pernah menembus hujan deras dan angin kencang pada malam segila itu. Tapi waktu itu ia mendekap tas plastik kecil berisi buku puisi untuk Naida. Kali ini ia menyandang tas ransel kosong yang cukup besar. Seekor pudel dapat meringkuk dengan nyaman di dalamnya.
Yogya, September 2003
-Dimuat di Minggu Pagi, No. 8 Th. 57, Minggu IV Mei 2004