Rabu, 15 Juni 2011

Perempuan di Titik Koma

Rh. Widada


YERMA yang letih mulai membuka lembar-lembar proof[1] itu di meja kecil, dalam kamar kontrakan yang kecil. Dengan cermat ia kemudian membaca, menelusuri huruf demi huruf di dalamnya. Yos, suaminya, memandangnya lekat-lekat sambil berbaring-baring di belakangnya. Teringat Yos akan mimpi buruknya: Yerma menyusut jadi sekecil huruf 12 point.
Pada awalnya Yos dan Yerma sangat bahagia ketika Yerma diterima sebagai proof reader di sebuah penerbitan. Meskipun kecil dan baru berkembang, Gabriel Books adalah penerbit yang bergengsi. Yang lebih penting, kini mereka akan mempunyai sumber keuangan lain kecuali dari surat kabar lokal tempat Yos menjadi wartawan.
Dan bayangan akan kehidupan rumah tangga yang lebih menyenangkan mengganggu tidur pasangan muda itu. Mereka tertawa dan merasa malu sendiri jika mengenang malam-malam setelah Yerma memasuki hari-hari kerjanya. Satu per satu mereka menyebut barang yang hendak mereka beli nantinya. “Mesin cuci untuk calon ibu,” kata Yos. “Blender untuk bikin jus wortel,” kata Yerma. “Kipas angin besar,” kata Yos. “Kulkas,” sahut Yerma. “Ya, ya kulkas,” Yos setuju. “Kredit sepeda motor.” Dan setelah bosan berkhayal, mereka bercinta habis-habisan.
Namun, seperti layaknya sebuah kisah cinta yang agung, tak semudah itu mereka mengukir episode berikutnya. Di suatu sore yang panas, Juan Kareem atau yang populer disebut JK, si kepala editor Gabriel Books, memanggil Yerma.
“Yerma, sudah Anda lihat buku kita bulan ini.”
“Sudah, ada masalah Pak?”
“Ok. Anda memang masih baru rupanya.” JK diam sejenak, lalu berkata, “Panggil Bung Noorham.” Yerma bergegas keluar ruangan. Dengan bertepuk kecil ia memanggil Noorham, editor sastra Gabriel Books. Begitu Noorham masuk, JK langsung berkata, “Bung, lihat ‘master piece’ kita bulan ini. Dan kasih tahu Yerma.”
Bung Noorham segera membuka-buka buku itu, halaman demi halaman, dengan tergesa. Pandangannya menyapu bolak-balik. “Daftar isi, Nak. Daftar isi…!” JK tak sabar. “Sejak kapan Gabriel memulai daftar isi dari halaman verso?[2] Macam pemain baru saja! Bung Noorham, you mustinya masih dampingi Yerma. Minimalkan risiko! Gabriel Books sedang naik daun. Lihat saja, bahkan Pustaka Hermes yang punya jaringan pasar sendiri di dalam dan luar Jawa itu, tanpa malu-malu mengekor tema dan desain buku kita. Gabriel Books sedang diamati banyak pihak, bukan saja oleh para pembaca, tapi juga penerbit-penerbit besar, dan investor. Jadi, semua saja, jangan bikin sesuatu yang fatal.” Dan menatap ke arah Yerma, JK berkata, “Pajang ‘hasil karya’ pertama Anda ini di ‘ruang pamer’,” sambil menuliskan sesuatu di buku itu.
“Ruang pamer” adalah sebuah almari kabinet di ruang redaksi yang di dalamnya dipajang buku-buku dalam keadaan terbuka. Di atas halaman buku-buku itu, coretan-coretan tinta warna merah seolah meneriakkan cemoohan JK, seperti “Best teler!”, “Buku terba(l)ik 1999!”, “Buku terlarang!”, “Buku kecil, salah besar!”, “Buku termahal (Rugi 50 juta, Broer)!”, “Buku tahan banting!” Dan untuk buku baru dengan daftar isi di halaman kiri itu, JK menulis “Master Piss, Buku Kiri Baru!” JK memang gemar mencemooh. Mungkin hal itu adalah ekspresi yang tak disadarinya sebagai anak dari pemilik perusahaan. Di luar itu, ia berusaha keras menunjukkan bahwa ia pantas menjadi kepala editor Gabriel Books —bukan karena dia adalah anak sang pemilik, melainkan karena kapasitasnya (JK “lulusan Amerika” dan pernah magang pada penerbit internasional).
Setiap kali Yerma membaca tulisan “Master Piss” itu, bayangan kegagalan masa percobaan bertumbuh besar di kepalanya. Karenanya, Yerma bekerja lebih cermat. Halaman-halaman proof itu dibacanya lagi dan lagi meskipun kadang membuatnya mual.
Namun, nyaris di tiap buku terbaru berikutnya JK masih saja dapat menemukan tanda titik yang hilang, tanda koma yang tidak pas, spasi yang berlebih, kesalahan penggalan, dan kesalahan-kesalahan lain serupa itu. Lalu seperti gaya bahasa seorang kolumnis sohor, JK sering berkata gusar, “Gabriel Books tak menuntut Anda bekerja perfect, tanpa noda. Kita tahu, itu mustahil. Hanya Tuhan yang bekerja macam itu! Tapi, tolong, berkhidmatlah pada perkara kecil. Belajarlah untuk peka pada detail. Sebab dengan begitu, artinya kita tengah membangun kebesaran. Jadi, saya tak ingin lagi ada penggalan yang tidak pas, ejaan yang salah kaprah, dan kesalahan serupa yang terus diulang-ulang!”
Maka memasuki kerja bulan ketiga, Yerma mulai membawa pulang halaman-halaman proof untuk diperiksanya di rumah. Yerma benar-benar tak ingin melewatkan satu titik pun sehingga suaminya sering cemburu pada halaman-halaman proof itu. Kepadanya, Yerma berkata bahwa malam-malam yang lebih indah akan menjadi milik mereka begitu masa percobaan itu habis. “Toh, tinggal tiga bulan,” tambahnya.
Namun, tiga bulan adalah waktu yang cukup panjang, sedangkan momentum lebih sering berhitung dalam detik. Pagi harinya, persis setelah malamnya Yerma menenangkan suaminya tentang penantian yang tinggal tiga bulan itu, JK memintanya masuk ke ruang kepala editor. Yerma sedikit heran, sepagi itu, bahkan sebelum karyawan-karyawan lain datang, JK telah duduk di ruang kerjanya dengan buku-buku terbuka dan komputer menyala di mejanya.
“Yerma, saya dengar dari Bung Noorham, Anda sering membawa pulang pekerjaan,” JK mulai bicara dengan gaya khasnya, tenang dan percaya diri, setelah mempersilakan Yerma duduk.
“Begitulah, Pak.”
“Bagus, saya senang Anda punya inisiatif,” JK tersenyum dan Yerma baru sadar bahwa JK bisa seramah itu. “Saya berharap pihak manajemen Gabriel Books cukup jeli.” Yerma tak tahu apa maksud ‘cukup jeli’ itu. Apakah itu artinya masa percobaannya dipersingkat? Mendapat reward? Ataukah …? Ah, Yerma memilih untuk tidak banyak berharap.
“Omong-omong, konon basic Anda psikologi?”
Yerma mengangguk.
“Bung Noorham pernah mengeluh, bahwa ia mulai kewalahan menangani seri psikologi yang selama ini disatukan dengan sastra dan filsafat. Seri Psikologi untuk Semua Orang mendapatkan respons bagus di pasaran.” JK berkata dengan nada bangga. Lalu sambil menunduk dan mengelap kacamatanya, ia melanjutkan, “Anak itu butuh asisten.” Setelah mengenakan kacamatanya lagi dan bergumam “oke,” JK bertanya, “Anda biasa menulis?”
“Sekadar pernah. Tentang pendidikan dan cerita anak-anak.”
“Cukup bagus untuk magang pada Bung Noorham. Ia guru yang hebat. Saya yakin Anda bisa belajar cepat. Dan itu sangat masuk akal. Saya sangat mendukung Bung Noorham untuk mengangkat asisten, tapi entahlah pihak manajemen. Mereka enggan menambah anggota dewan redaksi. Efisiensi, efisiensi! Itu saja yang mereka dengungkan. Saya harap mereka juga mulai berpikir bahwa rentangan sayap Gabriel Books yang kian lebar itu butuh energi yang makin besar pula.”
Yerma terdiam. Suatu masalah yang rumit membayangi benaknya. Apa jadinya jika Yerma, si “plonco” itu dalam waktu singkat langsung masuk jajaran dewan redaksi, yah meskipun sebatas magang asisten editor? Tidakkah ada Hilda yang lebih senior? Bagaimana pula nanti menghadapi Mas Bachtiar, koordinator tata letak yang telah belasan tahun di Gabriel Books dan sering menggerutu, “Silakan diseting sendiri kalau masih belum puas!” Juga Neti di bagian administrasi, yang suka menyuruhnya dengan penuh gaya untuk membantu mengoreksi surat-surat? Belum lagi menghadapi Mang Kahar dan anak buahnya di percetakan. Mereka dengan semacam “kesadaran kelasnya” telanjur menempatkan jajaran redaksi sebagai orang-orang pintar yang digaji besar hanya untuk menuding kesalahan dari ruang yang nyaman.
Namun, sebenarnya ada yang lebih rumit yang mulai mencengkeram Yerma. Cengkeraman itu datang berbarengan dengan genggaman tangan JK yang memberinya selamat atas kinerja Yerma yang baru saja dipujikannya. Meskipun benar Yerma telah bekerja maksimal, ia merasa ucapan selamat dan jabat tangan itu terlalu dicari-cari. Lebih-lebih sebelum Yerma meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba dengan canggungnya JK memuji baju yang dikenakannya. Sejak kapan JK peduli dengan warna baju budak tinta? Namun, sebagai sopan santun, Yerma mengucapkan terima kasih sewajarnya. Dengan itu Yerma berharap bahwa bayangan samar tentang JK yang mencoba memerankan diri sebagai Don Juan akan hilang. Mungkin JK baru saja membaca buku-buku semacam “Manajer yang Tersenyum” atau “Memimpin Manusia”.
Menjelang istirahat, ikon pesan di layar komputer Yerma yang terhubung dalam LAN mengisyaratkan ada pesan masuk. Buru-buru Yerma membukanya. Ternyata dari JK. Tulisnya, “Yerma, tolong, saya dibungkuskan makan siang kalau ke kantin. Bisa, kan?” Yerma membalas pesan itu dengan “Ok.” JK memang kadang kala makan di kantin depan percetakan. Tapi, minta dibungkuskan pada karyawan adalah hal baru.
Saat menyerahkan makan siang ke ruangannya, JK mengucapkan terima kasih dengan ramahnya. Dan Yerma merasa JK makin aneh ketika didapatinya tanpa sengaja lelaki itu mencuri pandang ke arahnya melalui cermin di wastafel saat cuci tangan. Tanpa menunggu lebih lama, Yerma langsung berpamitan.
Hari-hari berikutnya, si JK makin sering minta dibungkuskan makan siang pada Yerma. Dan banyak yang bilang JK sekarang jarang marah-marah lagi. Yerma mau melenyapkan pikiran bahwa perubahan JK itu tersebab oleh dirinya, bahwa JK sedang bahagia karena mulai jatuh cinta padanya. Itu sungguh sinting. Ia tahu bahwa meskipun masih muda, JK sudah punya dua anak. Dan lagi, bagi Yerma, kepercayaan yang diberikan Yos padanya sangatlah besar dan mahal.
Juan Kareem pasti lebih sinting dari Don Juan jika dia berpikir untuk memanfaatkan gayanya yang matang, kuat, intelek, dan tentu saja kantong tebalnya untuk memikat istri orang. Meskipun bukan pahlawan publik, JK setidaknya pernah muncul di majalah perbukuan sebagai orang buku yang punya visi, idealisme, dan integritas moral.
Namun, sore itu sehabis jam kerja saat Yerma dipanggil JK ke ruangannya, Yerma mulai kesulitan untuk membayangkan kata-kata semacam “idealisme” atau “integritas” itu melekat pada diri JK. Pada mulanya JK saat itu memang mengeluhkan tentang nasib dunia penerbitan di sebuah negara yang brengsek. Tetapi entah bagaimana caranya, JK pada ujung-ujungnya berkeluh tentang masalah rumah tangganya.
Yerma paham apa artinya jika seorang laki-laki mengeluhkan pasangannya pada perempuan lain. Yerma tak akan jatuh kasihan pada ular biludak. Maka ia menjawab, “Pak Juan, Anda seharusnya pergi pada psikolog. Atau menulis surat ke kolom konsultasi rumah tangga. Saya tak buka praktik, Pak! Selamat sore!” Yerma berdiri. Namun dengan sigap tangan JK yang kukuh menangkap pergelangan Yerma.
“Pak Juan, jangan macam-macam!”

JK tetap mencengkeram dan menarik tangan Yerma sambil berkata, “Saya mohon jangan salah paham Yerma. Tenang dan duduklah. Dan jangan berpikir saya ini pantas masuk dalam berita kriminal di televisi.” JK melonggarkan cengkeramannya. Yerma kembali duduk, lebih tenang.
“Ok. Begini lebih baik. Dan kita akan bicara dengan tenang.” Tanpa sadar JK mengelus punggung tangan Yerma. Darah Yerma tesirap, terlebih ketika dengan selembut dan seelegan mungkin, JK mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Yerma. Cih, rutuk Yerma dalam hati, rupanya begini saja editor hebat itu. Yerma dengan sebat menarik tangan kirinya yang dipegang JK, lalu secepat kilat pula meraih asbak gelas di meja JK dengan tangan kanannya.
“Awas kalau Pak Juan kurang ajar lagi!” Yerma mulai melangkah mundur. Namun, pada saat yang sama JK melompati meja di depannya untuk menjangkau Yerma. Dengan panik Yerma melemparkan asbak itu ke arah JK. Lelaki itu terjatuh sambil memegangi mata kirinya yang perih karena abu rokok dan tangan kanan menggenggam tali tas Yerma yang putus. Yerma kabur, tak peduli pada tasnya yang terjatuh dan menghamburkan segala isinya: dompet, sapu tangan, permen, pembalut wanita, dan koin recehan yang menggelinding ke segala arah.
Di pintu gerbang, Mang Mu’lim penjaga malam Gabriel Books terheran-heran melihatnya berlari-lari. “Masih ada bus kok Neng!” serunya. Hampir saja sebuah sepeda motor menyambarnya ketika Yerma menyeberang jalan yang memisahkan gedung penerbit Gabriel Books dengan percetakannya.
***
TANPA menunggu Yos mandi dan makan, Yerma langsung saja bertutur pada Yos begitu suaminya itu pulang. “Mas, aku mau berhenti kerja saja.” Yos tentu saja terkaget-kaget. Bukankah selama ini Yerma yang ngotot ingin bekerja, dan mati-matian berusaha lolos dalam masa percobaan?
Yos cuma memandang istrinya.
Yerma mulai terisak lalu menghambur ke bahu Yos. Tanpa banyak kata, Yos membawa istrinya ke kamar. Juga tanpa melepaskan jaket, topi, dan tas di lengannya Yos mendekap Yerma dan berusaha menangkap ceritanya yang meloncat dan terputus-putus oleh emosi dan isakan.
“Benar-benar ular!” Yos tertegun. Teringat olehnya profil JK dan Gabriel Books yang seminggu lalu muncul di korannya dengan judul besar “Fenomena Baru Perbukuan”. Pelan Yos meraih bahu Yerma yang kini lebih kurus. Yerma telah bekerja macam kuda beban selama empat bulan. Dan Yos rasanya ikut menaikkan beban di pundak istrinya itu karena penghasilannya yang kembang kempis.
Mengingat itu semua dan juga malam-malamnya yang dipenuhi cemburu pada lembar-lembar proof, dengan penuh amarah Yos mendesis, “Yerma, bukan kamu yang harus minggir. Ular biludak itulah yang harusnya dipecat.” Yerma kembali merasa sesak. Jauh di dasar hatinya, ia pun membenarkan kata-kata Yos. Dan ia pun sangat ingin tetap membantu Yos menambah penghasilan. Namun, dapatkah Gabriel Books menyingkirkan anak majikan yang “visioner dan idealis” itu demi membela budak tinta macam dirinya? Lagi pula, apakah orang-orang bisa percaya bahwa JK yang pintar, tampan, dan kaya itu telah berlaku kurang ajar padanya? Yerma bisa saja memaafkan JK jika itu dikehendaki. Namun, bagaimana bisa ia bertemu JK tanpa rasa was-was?
Lelah karena mengejar-ngejar jawaban, Yerma akhirnya tertidur juga. Lama sekali Yos memandangi istrinya. Hembusan nafasnya yang halus mulai teratur. Yerma berangkat lelap meninggalkan kerlip air di sudut matanya. Dalam posisi sedikit meringkuk, perempuan itu menyerupai tanda koma. [ ]
______________________
1. Cetak coba halaman buku yang masih harus diperiksa.
2. Halaman buku di bagian kiri, lawannya recto.

Yogya, 2008

---Dimuat di Mingu Pagi. No. 11 Th 61 Minggu III Juni 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar