Diktat

Pertemuan Ke-1

Kemampuan Berbahasa dan Dunia Akademik

Rh. Widada



Berpikir dan Berbahasa
Dunia akademik adalah dunia pemikiran. Di dalamnya kita mendapati proses perintisan, penyebaran, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar, penelitian, pengujian, pelaporan, dan juga publikasi ilmiah. Oleh karena itu, dunia akademik disebut juga dunia ilmiah, sebuah tempat bagi para ilmuwan dan kaum cerdik pandai menggeluti, mengolah dan mengembangkan ilmu yang menjadi minatnya. Harus kita bayangkan bahwa dunia ilmiah adalah dunia yang dinamis dan terus menerus bergerak. Di dunia itu berbagai gagasan, teori, dan aksioma  terus digali, diolah, dilaporkan, diperdebatkan, dan disimpulkan serta diakui sebagai kebenaran senyampang (selagi) belum ditemukan kebenaran baru yang mampu menyanggah kesimpulan atau penemuan itu.
Daya hidup dan keberlangsungan dunia ilmiah yang seperti itu sesungguhnyalah hanya dimungkinkan ada jika didukung oleh bahasa. Mengapa? Sebab bahasa merupakan sarana atau media berpikir. Aktivitas berpikir tidak akan terjadi tanpa aktivitas berbahasa. Sebagai contoh sederhana, cobalah Anda rencanakan atau pikirkan untuk apa uang yang ada di dompet Anda sekarang ini! Mungkin di dalam hati,  Anda mulai berkata, “Saya akan gunakan untuk membeli komik!” atau, “Saya akan mentraktir teman,” atau, “Saya akan sedekahkan uang itu kepada tetangga yang kurang mampu,” dan lain-lain.
Perhatikan bahwa ketika Anda mulai berkata dalam hati, “Saya akan begini, saya akan begitu…,” saat itu juga Anda sebenarnya sudah melakukan aktivitas berbahasa walaupun Anda tidak mengucapkannya. “Berkata dalam hati” sesungguhnya sudah merupakan aktivitas berbahasa karena saat melakukannya Anda sudah menggunakan kata-kata dengan urutan-urutan tertentu untuk menampilkan gagasan di dalam benak atau pikiran Anda. Memang begitulah, bahasa pada hakikatnya berada pada level mental atau pikiran.  Adapun percakapan, tuturan, dan atau tulisan hanyalah merupakan perwujudan atau manifestasi dari bahasa itu. Begitulah menurut teori bahasa yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913), ahli linguistik dari Swedia yang hingga kini belum terbantahkan.
Jika proses berpikir secara sederhana itu pun membutuhkan bahasa, mustahil proses berpikir ilmiah dapat terjadi tanpa bahasa. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa terutama bahasa tulis merupakan hal yang sangat penting bagi semua sivitas akademik: guru, murid, dosen, mahasiswa, para peneliti, laboran, hingga guru besar. Perwujudan atau bukti dari kemampuan akademik itu sendiri telah memperlihatkan bahwa tingkat pencapaian akademik selalu berkorelasi dengan kuantitas dan kualitas karya ilmiah seseorang. Adapun karya itu tidak lain berupa tulisan (salah satu wujud dari aktivitas berbahasa). Untuk lulus dalam sebuah mata kuliah, Anda harus mampu menjawab soal-soal ujian yang sebagian besar dilakukan secara tertulis. Untuk menjadi sarjana atau lulus dari perguruan tinggi, Anda harus menulis skripsi; untuk menjadi master, Anda harus menulis tesis; untuk menjadi doktor, Anda harus menulis disertasi; untuk eksis di dunia ilmiah, Anda harus banyak menulis artikel di jurnal-jurnal ilmiah. Demikianlah seterusnya.
Akan tetapi, sayangnya kemampuan berbahasa itu sering kali kurang mendapat perhatian, kalaupun bukan disepelekan, dari para sivitas akademik itu sendiri. Sebagian kalangan akademisi kurang memperhatikan bahasa karena terlalu asyik atau sibuk dengan substansi atau materi keilmuan itu sendiri (sehingga lupa pentingnya mengkomunikasikan hasil-hasil karya mereka). Sebagian yang lain berpendapat bahwa yang penting adalah materi keilmuan itu dapat dipahami sehingga aspek cara penyampaiannya tidak dipandang penting. Pandangan itu patut disayangkan karena dalam jangka panjang hal itu akan merugikan dunia ilmiah. Jika tidak terumuskan dalam bahasa yang baik, temuan-temuan itu bisa disalahpahami, atau bahkan kehilangan perhatian dari masyarakat ilmiah. Hal itu terjadi karena orang malas membaca risalah atau laporan ilmiah yang buruk. Perhatikanlah bahwa ilmuwan-ilmuwan besar rata-rata adalah para penulis yang baik. Misalnya Rene Descartes, Karl Marx, Einstein, Tagore, hingga ilmuwan zaman kita seperti Stephen Hawking.

Bahasa (Tulis) sebagai Sarana Pemeliharaan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Andaikan Ibnu Sina (ilmuwan muslim abad X dari Bukhara, Uzbekistan) atau  biasa disebut sebagai Avicenna di dunia Barat, tidak menuliskan Al Qanun fi al Tibb, ilmu kedokteran tentu tidak akan seperti sekarang. Dalam karyanya yang oleh ilmuwan Barat disebut sebagai The Canon itu,  Ibnu Sina konon menulis jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Ibnu Sina juga menulis karya tentang anatomi manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Selain itu , dia juga memperkenalkan metode pengobatan secara sistematis, dan hal itu dijadikan rujukan hingga selama tujuh abad sesudahnya. Sangatlah pantas jika Ibnu Sina dinobatkan sebagai Bapak Ilmu Kedokteran. Namanya bisa disejejarkan dengan Hipokrates yang hidup sekitar 400 tahun SM, yang juga seorang perintis ilmu kedokteran yang pendirian etisnya hingga kini dijadikan sebagai bagian dari sumpah profesi dokter.
Dengan ilustrasi itu saya hendak menyampaikan tentang betapa pentingnya karya tulis untuk memelihara dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika Ibnu Sina tidak menuliskan ilmu dan pengetahuannya tentang kedokteran yang telah dicapainya pada abad X tersebut, ilmuwan dan dokter-dokter sepeninggalnya tidak akan dapat mempelajari kembali berbagai ilmu dan pengetahuan penting yang telah ditemukan Ibnu Sina. Demikian pula, andaikata Hipokrates tidak menuliskan sumpah kedokterannya, mungkin kasus-kasus malapraktik dunia kedokteran pada saat ini tidak berhak untuk digugat.
           Maka demikianlah, menulis tidak dapat dipisahkan dari dunia akademik. Sedangkan  keterampilan menulis itu tidak lain merupakan perwujudan dari keterampilan berbahasa.  Oleh karena itu, seorang akademisi, sarjana, atau ilmuwan seharusnya dapat menulis dengan baik.

Ciri-ciri Bahasa Ilmiah
Setelah kita paham tentang urgensi atau pentingnya kemampuan berbahasa (tulis) dalam dunia akademik, pertanyaan selanjutnya adalah bahasa seperti apa yang dikehendaki dalam komunikasi ilmiah? Dari pengamatan terhadap praktik penggunaan bahasa dalam dunia ilmiah, dapat dikatakan bahwa bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri penting sebagai berikut: (1) bernalar/ logis; (2) jelas (tidak ambigu/ taksa); (3) terstruktur; (4) konsisten; (5) konvensional; dan (6) terbuka pada koreksi.

Bernalar atau Logis. Dari sekian  banyak ciri bahasa ilmiah, ciri ini merupakan yang paling penting atau mendasar. Tidak ada kritikan yang paling meruntuhkan sebuah susunan karya tulis ilmiah kecuali penilaian yang menyatakan bahwa tulisan ini kurang bernalar alias tidak logis. Nalar atau logika merupakan dasar-dasar , tulang punggung, dan sendi-sendi  sebuah susunan karya ilmiah. Tanpa logika, sebuah karya tulis tidak berhak diberi predikat ilmiah. Dengan logika inilah sebuah tulisan ilmiah menunjukkan kekuatan dan  keabsahan atas klaim kebenaran atas pemikiran dan penemuan ilmiahnya.

Jelas/Tidak Ambigu atau Taksa. Ciri ini berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dari sebuah komunikasi ilmiah yaitu tertangkapnya informasi secara utuh oleh pihak yang dituju dalam komunikasi tersebut.  Informasi ilmiah ini bisa berupa penemuan metode dan teori baru, pengetahuan baru, atau penerapan ilmu baru. Keutuhan informasi tersebut, yakni bahwa informasi itu tidak berkurang, tidak bias, atau menimbulkan salah pemahaman saat diutarakan, mempersyaratkan penggunaan bahasa yang jelas, tepat, dan tidak bermakna ganda. Oleh karena itu, dalam komunikasi ilmiah orang sedapat mungkin menghindari kata-kata yang kurang terukur, seperti kata-kata yang mengandung perasaan, subjektif, dan penuh kiasan.  Hal ini berbeda dengan bahasa seni atau sastra yang mempunyai ciri yang sebaliknya, yaitu multitafsir, penuh kiasan, bernuansa makna yang subtil, dan membangkitkan perasaan.

Terstruktur. Ciri ini juga sangat berkaitan dengan tujuan komunikasi ilmiah sebagaimana disebut di atas.  Agar informasi ilmiah terkomunikasikan dengan baik, informasi itu harus disampaikan dengan cara berbahasa yang tersusun atau terstruktur dengan baik. Dalam tataran kalimat, hal ini tampak dari susunan kalimat dan tata bahasa yang benar dan baik. Sebuah kalimat dalam karya tulis ilmiah harus menggunakan tata bahasa yang baik. Mana subjek, predikat, dan objek kalimat harus ditempatkan sesuai aturan tata bahasa.  Perlu disadari bahwa hal ini bukanlah tuntutan yang cerewet dari para ahli bahasa semata, melainkan bahwa memang demikianlah seharusnya komunikasi ilmiah yang baik. Ingatlah bahwa karya ilmiah itu dibuat untuk dibaca dan dipahami pihak lain yang bekepentingan dengan informasi-informasi yang dikandungnya. Penggunaan bahasa yang kacau bukan hanya menjengkelkan pembacanya, melainkan bisa juga menimbulkan salah tafsir. Akibat dari salah tafsir ini bisa berdampak besar dan panjang dalam komunikasi ilmiah.

Konsisten. Konsistensi atau ketaatan pada asas dan cara-cara dalam berbahasa ini erat kaitannya dengan salah satu maksud penulisan karya ilmiah, yaitu agar karya itu dapat ditelaah kembali dan dikembangkan dengan baik. Bayangkan apabila sebuah karya ilmiah menggunakan istilah yang berbeda-beda tanpa penjelasan dan alasan yang masuk akal untuk menyebut sebuah benda, alat, konsep, gagasan, atau hal-hal lain yang dibahasnya, hal itu tentu akan membingungkan pembacanya. Selain itu, ketidakkonsistenan tersebut sangat menghambat komunikasi ilmiah yang diharapkan tidak terikat waktu dan ruang. Penggunaan bahasa yang konsisten dalam satu lingkup masyarakat ilmiah akan menjamin kelancaran perdebatan, komunikasi, dan pada gilirannya penemuan atau kesimpulan-kesimpulan baru.

Konvensional. Dua ciri di atas yaitu terstruktur dan konsisten pada sisi yang lain menampakkan ciri bahasa ilmiah yang selanjutnya, yaitu konvensional. Artinya di sini bahwa masalah bagaimana struktur (susunan) dan konsistensi sebuah tulisan ilmiah sebagian besar merupakan hasil kesepakatan atau konvensi  masyarakat ilmiah yang mendukungnya.  Sebagai contoh, pedoman teknis penulisan karya ilmiah di UGM mungkin berbeda dari pedoman teknis penulisan karya ilmiah di UI.  Namun demikian, pada tataran yang lebih substansial, di kalangan akademis di Indonesia tentu ada kesepakatan atau konvensi-konvensi yang umum berlaku. Demikian pula, menurut disiplin masing-masing, tentu ada pembakuan-pembakuan istilah. Dengan demikian, diharapkan komunikasi ilmiah dalam disiplin tersebut dapat berlangung dengan baik dan lancar.

Terbuka pada Koreksi. Ciri ini berkaitan dengan semangat dunia ilmiah yang berusaha untuk menemukan hal-hal yang lebih benar. Perdebatan ilmiah dari abad ke abad tidak lain dari upaya para ilmuwan untuk menemukan hal-hal yang semakin mendekati pada kebenaran yang sejati.  Oleh karena itu, Karl Popper, seorang ahli filsafat ilmu (epistemologi) justru menempatkan kriteria dapat disalahkan sebagai kriteria pemikiran ilmiah. Risalah ilmu yang rumusan-rumusan teori atau aksiomanya tertutup untuk dikoreksi atau tidak membuka kemungkinan untuk dapat dikoreksi sesungguhnya justru kurang ilmiah. Nah, semangat itu tentu saja harus pula mewarnai sebuah cara berbahasa dalam komunikasi ilmiah.
***


______________________________________________________ 
Pertemuan Ke-2

Kasus-kasus Kesalahan Berbahasa
yang Sering Ditemukan dalam Karya Tulis Ilmiah

Struktur Kalimat Tidak Lengkap
1.   Dalam aktivitas yang melibatkan angka-angka, tanpa disadari seringkali telah pula menggunakan statistika. Fungsi predikat. (Subjek kalimatnya tidak ada.)
      Contoh koreksi :
a.  Dalam aktivitas yang melibatkan angka-angka, tanpa disadari,  sering kali kita telah pula menggunakan statistika.
b.  Dalam aktivitas yang melibatkan angka-angka, tanpa disadari,  sering kali telah pula digunakan statistika.
c.  Aktivitas yang melibatkan angka-angka, tanpa disadari seringkali telah pula menggunakan statistika.

2.  Statistika melakukan pengolahan atas data kuantitatif. Pada awal perkembangannya, dihubungkan dengan kegiatan pemerintah. (Kalimat kedua tidak mempunyai subjek.)
      Contoh koreksi:
      Statistika melakukan pengolahan atas data kuantitatif. Pada awal perkembangannya, statistika dihubungkan dengan kegiatan pemerintah.

3.   Statistika tidak hanya melakukan pengamatan dan pencatatan, tapi juga timbul usaha-usaha untuk menarik kesimpulan dan membuat ramalan. (Predikat dalam anak kalimat, yakni timbul, tidak tepat dari segi makna—maknanya janggal.)
      Contoh koreksi:
      Statistika tidak hanya melakukan pengamatan dan pencatatan, tapi juga meliputi usaha-usaha untuk menarik kesimpulan dan membuat ramalan

4.   Karenanya menjadi permasalahan yang menarik untuk dikaji. (Kalimat ini tidak mempunyai subjek.)
      Contoh koreksI:
      Oleh karena itu, hal tersebut menjadi permasalahan yang menarik untuk dikaji.

Struktur Kalimat Kacau
1.  Gambaran kependudukan di propinsi Jawa Tengah berdasarkan hasil SP 1990 jumlah penduduk sebanyak 32.487.774 jiwa dengan angka pertumbuhan rata-rata sebesar  1,08 persen tiap tahun.
      Contoh koreksi:
a.  Gambaran kependudukan di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan hasil SP 1990 adalah jumlah penduduk sebanyak 32.487.774 jiwa dengan angka pertumbuhan rata-rata sebesar  1,08 persen tiap tahun.
b.   Gambaran kependudukan di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan hasil SP 1990 adalah sebagai berikut.  Jumlah penduduknya sebanyak 32.487.774 jiwa dengan angka pertumbuhan rata-rata sebesar  1,08 persen tiap tahun.

2.  Karena itu masih terdapat masyarakat terasing yang belum terbina di propinsi Riau sebanyak 5941 KK, dari jumlah yang belum terbina itu yang paling banyak adalah suku laut, yakni sebanyak 1611 KK, dan paling banyak terdapat di Kabupaten Inderagiri Ilir.
      Contoh koreksi:
 Oleh karena itu, masih terdapat masyarakat terasing yang belum terbina di Provinsi Riau sebanyak 5941 KK. Dari jumlah tersebut,  yang paling banyak adalah suku Laut, yakni  1611 KK. Mereka terdapat di Kabupaten Inderagiri Ilir.
     

3.  Berkenaan dengan budaya “baku piara” (kumpul kebo) tersebut, pemerintah yang ada didaerah melalui Kantor Catatan Sipil (bekerjasama dengan mahasiswa KKN dan organisasi-organisasi keagamaan) mempunyai program dan sudah berjalan sejak dulu mengadakan “nikah massal” bagi keluarga-keluarga yang termasuk dalam nikah yang sah.
      Contoh koreksi:
      Berkenaan dengan budaya “baku piara” (kumpul kebo), pemerintah daerah mempunyai program  mengadakan nikah massal bagi mereka yang belum menikah secara sah. Program itu dijalankan oleh Kantor Catatan Sipil bekerja sama dengan mahasiswa KKN dan organisasi-organisasi keagamaan. Hal itu telah berlangsung sejak dulu.

4.  Para penambang emas di Kal-Teng memiliki setting  yang menarik untuk dikaji, kaitannya dengan kesehatan reproduksi.
      Contoh koreksi:
a. Para penambang emas di Kalteng memiliki setting  yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya    dengan kesehatan reproduksi.
b. Para penambang emas di Kalteng memiliki latar yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya    dengan kesehatan reproduksi

Penggunaan kata yang mubazir
1.   Hal ini disebabkan karena penderita penyakit ini masih sedikit, juga pengobatannya memerlukan biaya mahal.
      Contoh koreksi:
a. Hal ini disebabkan penderita penyakit ini masih sedikit, juga pengobatannya memerlukan biaya mahal.
b. Hal ini karena penderita penyakit ini masih sedikit, juga pengobatannya memerlukan biaya  mahal

2.  Hal itu perlu dilakukan agar supaya pembaca mudah mencari sumber rujukan dari tulisan ini.
      Contoh koreksi:
      a. Hal itu perlu dilakukan supaya pembaca mudah mencari sumber rujukan dari tulisan ini.
      b. Hal itu perlu dilakukan agar pembaca mudah mencari sumber rujukan dari tulisan ini.

Kekeliruan Ejaan atau Penulisan             
1.  Pengambilan sampel  dilakukan secara non random, dengan menggunakan pertimbangan yang disesuaikan dengan tujuan penelitian ( purposive ).
      Contoh koreksi:
      Pengambilan sampel  dilakukan secara non random, dengan menggunakan pertimbangan yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (purposive).

2.   Pendekatan masalah perlindungan bagi wanita yang hamil di luar pernikahan, dititik beratkan pada pendekatan  sosial- kultural.
      Contoh koreksi:
      Pendekatan masalah perlindungan bagi wanita yang hamil di luar pernikahan, dititikberatkan pada pendekatan  sosial-kultural.

3.  Penelitian direncanakan pelaksanaannya di kota-kota wilayah propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
      Contoh koreksi:
 Penelitian direncanakan pelaksanaannya di kota-kota wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

4.  Di tinjau dari segi sosial budaya, perkembangan teknologi informasi membawa dampak yang luar biasa.
      Contoh koreksi:
      Ditinjau dari segi sosial budaya, perkembangan teknologi informasi membawa dampak yang luar biasa.

5.  Dari bukti diatas jelas bahwa banyak televisi yang tidak memperhatikan aturan jam tayang acara untuk penonton dewasa.
      Contoh koreksi:
      Dari bukti di atas jelas bahwa banyak stasiun televisi yang tidak memperhatikan aturan jam tayang acara untuk penonton dewasa.

Ketidakcermatan/ Kekeliruan Penggunaan Kategori Kata
1.  Dalam masalah infertilitas ini pemerintah belum mempunyai program penanganan secara institusi walaupun konsepsinya sudah ada.
      Contoh koreksi:
      Dalam masalah infertilitas ini pemerintah belum mempunyai program penanganan secara institusional walaupun konsepsinya sudah ada.
2.  Demikian pula pihak Pemda, menganggap keberhasilan penutupan lokalisasi tersebut sebagai sukses yang tidak bisa dibantah.
      Contoh koreksi:
      Demikian pula, pihak Pemda menganggap keberhasilan penutupan tempat lokalisasi tersebut sebagai kesuksesan yang tidak bisa dibantah.

Kekeliruan Penggunaan Tanda Baca dan Huruf Kapital
1.   Dengan demikian perkosaan, pornografi dan prostitusi merupakan ungkapan dari agresivitas kelaki-lakiannya.
      Contoh koreksi:
      Dengan demikian, perkosaan, pornografi, dan prostitusi merupakan ungkapan dari agresivitas kelaki-lakiannya.

2.   Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi atau lembaga yang berkepentingan langsung dengan pegelolaan atlet, seperti: KONI, DEPDIKBUD, PERBAKIN, PERCASI dan lain-lain.
      Contoh koreksi:
      Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi atau lembaga yang berkepentingan langsung dengan pegelolaan atlet seperti: KONI, Depdikbud, Perbakin, Percasi, dan lain-lain.

3.  Para ulama dan tokoh masyarakat tidak begitu mempersoalkan  lagi keberadaan bekas lokalisasi tersebut, karena didasarkan pada anggapan bahwa lokalisasi tersebut telah “mati”. Demikian pula pihak Pemda, menganggap keberhasilan penutupan lokalisasi tersebut sebagai sukses yang tidak bisa dibantah.
      Contoh koreksi:
      Para ulama dan tokoh masyarakat tidak begitu mempersoalkan lagi keberadaan bekas tempat lokalisasi tersebut, karena didasarkan pada anggapan bahwa tempat tersebut telah mati. Demikian pula, pihak Pemda menganggap keberhasilan penutupan tempat lokalisasi tersebut sebagai kesuksesan yang tidak bisa dibantah.

***


_____________________________________________________________ 
Pertemuan Ke-3
Proses Berpikir Ilmiah
Rh. Widada
Telah disebutkan pada bagian terdahulu (dalam materi kuliah I) bahwa proses berpikir tidak dapat dilepaskan dari proses berbahasa. Melalui bahasalah manusia mengolah, menata  dan memberi bentuk pada pikiran-pikirannya. Dengan kata lain, dalam hal ini, bahasa dipandang sebagai alat atau media berpikir sekaligus mereprentasikan hasil-hasil dari proses berpikir tersebut. Oleh karena itu, seorang ilmuwan atau akademisi yang pekerjaannya sebagian besar adalah berpikir dituntut untuk menguasai cara memanfaatkan alat tersebut dengan sebaik-baiknya. Penguasaan itu secara umum akan terlihat dalam kualitas dan kuantitas karya tulis ilmiah yang dibuatnya. Seorang ilmuwan yang berkualitas biasanya menghasilkan banyak karya tulis ilmiah yang juga berkualitas.
Berpikir Ilmiah
Proses berpikir, terutama dalam keadaan terjaga (tidak tidur),  nyaris tidak pernah lepas dari kehidupan kita.  Dalam keadaan tidur pun ada kalanya bahkan kita masih berpikir. Misalnya pada saat kita bermimpi. Pada waktu berpikir tersebut muncullah dalam benak kita berbagai gambaran tentang sesuatu (benda, kejadian, proses, makhluk) yang sebenarnya belum tentu hadir secara nyata.
Kegiatan berpikir itu sebagian besar berlangsung tanpa kita sadari dan bahkan sering pula tanpa kendali. Hal ini,  misalnya, terjadi pada saat seseorang melamun dengan pikiran ke sana-sini. Proses berpikir itu jarang kita sadari karena sudah menjadi bagian yang alami atau wajar dari kehidupan manusia. Setiap hal yang kita alami secara otomatis akan membuat pikiran kita bereaksi dan dilanjutkan dengan tindakan jika perlu. Keputusan agar segera melarikan diri dari kejaran anjing, misalnya, tidak perlu melalui proses berpikir secara sadar bahwa (1) anjing itu berbahaya karena bisa menggigit; (2) anjing itu mampu berlari sangat kencang ; (3) anjing itu sedang memburu kita sehingga (4) kita menyimpulkan untuk lari. Demikianlah, proses berpikir di dalam dan mengenai kegiataan biasa sehari-hari itu sebagian besar berlangsung tanpa kita sadari.
            Berbeda dari berpikir biasa, proses berpikir ilmiah senantiasa dilakukan secara sadar  dan dengan aturan (nalar, logika) dan metode yang jelas. Tujuannya pun jelas, yaitu untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan-pengetahuan yang benar dan berlaku secara umum. Selain itu, kesimpulan-kesimpulannya dapat diuji kembali kebenarannya melalui aturan atau metode yang sama. Pengetahuan dari hasil proses berpikir ilmiah itu disebut ilmu.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah proses berpikir ilmiah itu berlangsung?

Tahap-tahap Berpikir Ilmiah
Di kalangan ilmuwan telah disepakati secara luas bahwa proses berpikir ilmiah atau biasa juga disebut prosedur ilmiah itu mencakup lima langkah utama. John Dewey (1859-1952), filsuf, ahli pendidikan, dan psikolog Amerika, merumuskan kelima langkah itu sebagai berikut: (1) menemukan dan merumuskan masalah; (2) menyusun kerangka berpikir untuk mengajukan hipotesis (jawaban sementara); (3) merumuskan hipotesis; (4) menguji hipotesis; (5) menarik kesimpulan.


1. Menemukan dan merumuskan  masalah
 Langkah ini merupakan hal yang sangat penting dan fundamental dalam prosedur ilmiah. Dari kualitas perumusan masalah bisa diperkirakan hasil sebuah proses penelitian. Suatu penelitian dengan rumusan masalah yang buruk, yaitu tidak jelas apa yang hendak dijawabnya, sudah pasti hasilnya kurang baik. Rumusan masalah yang baik,  yaitu jelas dan terarah atau terfokus, merupakan salah satu syarat penelitian yang baik. Dengan rumusan masalah yang baik, langkah ilmiah selanjutnya bisa berjalan dengan baik dan terarah. Proses penelitian tidak lain dari upaya mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawabannya secara bertahap hingga pada satu kesimpulan.  Lebih lanjut, dalam hal ini dapatlah kita nyatakan bahwa pertanyaan yang baik sudah mengandung setengah jawaban.
            Lantas bagaimana caranya agar kita peka dan cakap dalam upaya menemukan permasalahan? Langkah yang pertama dan terpenting adalah senantiasa memperbanyak khazanah pengetahuan dan memperluas wawasan  dalam bidang ilmu yang kita geluti. Selanjutnya, kita juga tidak boleh membatasi pengetahuan hanya pada bidang ilmu kita sendiri. Kita harus bisa melihat keterkaitan bidang ilmu kita  dengan bidang-bidang lain dan dunia kehidupan pada umumnya. Sebagai akademisi kita harus rajin membaca surat kabar, jurnal ilmiah, buku-buku, dan juga bergaul dalam forum dan komunitas-komunitas akademik tanpa harus melupakan kehidupan masyarakat umum.  Ini penting karena dalam kehidupan masyarakat itulah masalah-masalah keilmuan bersumber.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan internetnya, misalnya,  dalam satu setengah dekade terakhir ini telah menimbulkan masalah-masalah yang sangat menarik untuk dikaji. Sebagai ilustrasi, dari fenomena perkembangan TIK,  dapat kita temukan berbagai masalah seperti: bagaimana dampak sosial ekonomi dan politik kemajuan TIK dalam tata hubungan internasional (tinjaulah kasus Wikileaks,  gencarnya perkembangan e-commerce, maraknya money game, Revolusi Mesir);  bagaimana dampak perkembangan TIK terhadap kehidupan sosial-psikologis (tinjaulah modus meraih popularitas lewat Youtube, pengaruh Google terhadap kemampuan kognitif, fenomena Facebook sebagai sarana sosial), dan banyak lagi masalah lain yang muncul bertubi-tubi. Semuanya itu bisa menjadi inspirasi penelitian bagi para akademisi dari berbagai disiplin ilmu.

2. Menyusun kerangka berpikir untuk mengajukan hipotesis
            Setelah masalah dirumuskan dengan jelas dan terarah, gagasan tentang permasalahan itu harus  kita letakkan dalam perspektif (cara pandang) pemikiran yang lebih luas. Setelah duduk permasalahannya jelas, kita harus mencari dan menemukan asumsi-asumsi (anggapan dasar) yang ada di balik cara melihat atau mendudukan permasalahan itu. Anggapan-anggapan dasar ini kemudian kita carikan rujukan dan dukungan teoretiknya,  kita susun dan gabungkan (elaborasikan) untuk kemudian kita jadikan sebagai kerangka berpikir atau landasan teori. 
            Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh berikut.  Misalnya ditemukan sebuah fenomena bahwa, sebagaimana banyak dikeluhkan para guru SD, kemampuan berkonsentrasi tanpa jeda terhadap pelajaran dari anak-anak sekolah pada saat ini rata-rata hanya berlangsung selama 5 sampai 7 menit. Lebih dari durasi itu, mereka akan segera mengalihkan perhatian ke berbagai hal lain. Di sisi lain, orang tua murid mengeluhkan sulitnya mengajak anak-anak mereka belajar. Mereka lebih banyak menonton televisi.  Kata orang tua mereka, anak-anak itu menonton televisi lebih dari 2 jam per hari. Si guru pun mulai tertarik dengan fenomena itu. Dia pun mulai berpikir dan bertanya-tanya, adakah hubungan antara kebiasaan menonton televisi itu dan kemampuan berkonsentrasi anak-anak di kelas? Ia kemudian menelusuri sejumlah literatur yang berkenaan dengan masalah itu. Kecurigaannya pun semakin memperoleh penguatan. Sejumlah ahli mengatakan bahwa daya konsentrasi itu memang terbentuk mengikuti pola-pola yang telah terbiasakan. Sepeti disket yang diformat, otak anak/manusia pun akan terbentuk atau terpola menurut kebiasaan yang dijalaninya.
            Berdasarkan pengamatannya atas fenomena, fakta, dan pengetahuan teoretik itu, si guru pun memperoleh gambaran permasalahan yang lebih jelas. Ia pun kemudian mencoba merumuskan permasalahannya itu. Rumusannya adalah sebagai berikut: Pengaruh kebiasaan (pola) menonton televisi terhadap daya konsentrasi anak. Jika diwujudkan dalam pertanyaan, rumusan itu dapat berbunyi sebagai berikut: Apa pengaruh kebiasaan (pola) menonton televisi anak-anak terhadap daya konsentrasinya?

3. Merumuskan hipotesis
            Setelah peneliti merumuskan permasalahan lalu melakukan telaah secara cermat dan mendalam terhadap berbagai fenomena, fakta, dan juga asumsi-asumsi teoretik yang relevan, dengan pertimbangan rasionalnya peneliti dapat mengajukan jawaban sementara atas permasalahan itu. Jawaban sementara inilah yang disebut sebagai hipotesis. Masih dengan ilustrasi tentang masalah yang ditemukan seorang guru di atas, proses penarikan hipotesis  itu dapat kita jelaskan langkah-langkah sebagai berikut.
(1) Guru menemukan fenomena  bahwa murid-murid kesulitan berkonsentrasi pada pelajaran secara terus-menerus lebih dari 7 menit.
(2) Melalui keluhan orang tua, guru menemukan fakta  bahwa murid-muridnya mempunyai kebiasaan menonton televisi  lebih dari 2 jam/ hari.
(3) Guru menemukan rujukan teoretis bahwa daya konsentrasi itu terbentuk atau dipengaruhi oleh pola-pola persepsi yang telah terbiasakan.
(4) Guru menghubungkan fakta kebiasaan menonton televisi murid-muridnya dengan fenomena kesulitan konsentrasi belajar mereka di kelas dan teori bahwa daya konsentrasi dipengaruhi oleh pola-pola persepsi yang terbiasakan.
(5) Guru merumuskan jawaban sementara atas masalah menurunnya durasi konsentrasi belajar anak-anak, yakni bahwa bahwa pola-pola kebiasaan menonton televisi  tertentu telah mempengaruhi daya konsentrasi belajar yang  dalam hal ini berupa pengurangan durasi konsentrasi anak.
Karena hipotesis merupakan jawaban sementara, kebenarannya haruslah diuji secara empiris. Cara pengujiannya antara lain dengan mencari data-data dan informasi yang relevan dan paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Dalam hal ini kemudian dilakukanlah berbagai metode pengumpulan data.  Misalnya wawancara, kuisioner, dan juga pengamatan langsung. Berdasarkan data yang terkumpul peneliti kemudian menguji  apakah hipotesisnya itu benar dan sahih sehingga dapat dinaikkan derajatnya menjadi sebuah tesis (pernyataan yang telah teruji kesahihan dan kebenarannya secara ilmiah). Demikianlah hipotesis mempunyai peran penting sebagai pedoman kerja penelitian. Hip
Walaupun demikian, tidak setiap jenis penelitian memerlukan hipotesis . Ada jenis-jenis penelitian yang tidak memerlukan perumusan hipotesis. Di antaranya ialah penelitian eksploratif, survey, atau studi kasus. Penelitian semacam ini diadakan bukanlah untuk menguji hipotesis tetapi untuk mempelajari gejala-gejala di seputar masalah sebanyak-banyaknya.

4. Menguji hipotesis
            Hipotesis dihasilkan melalui penalaran rasional. Artinya pernyataan yang terkandung dalam hipotesis itu diperoleh atau ditarik melalui proses penalaran yang bersumber dari pikiran atau akal budi semata-mata, tidak berdasarkan pengalaman. Untuk menguji apakah pernyataan hipotesis tersebut benar dalam arti sesuai dengan kenyataan, diperlukan pengumpulan data-data dari pengalaman atau kenyataan yang relevan dengan hipotesis.
            Adapun pengumpulan data itu bisa dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh metode penelitian, teknik pengambilan data dan sampel, serta teknik analisis penelitian. Setelah data ini terkumpul, maka dilakukanlah langkah analisis sebagai bagian dari pengujian hipotesis. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana analisis itu dilakukan?
            Secara umum proses itu analisis itu meliputi tiga hal, yaitu: pengenalan unsur-unsur, penggolongan (klasifikasi) unsur-unsur, dan penemuan relasi logis antarunsur yang berada dalam cakupan permasalahan. Dalam tahap penemuan relasi logis antarunsur inilah hipotesis memainkan peran sentralnya. Upaya-upaya mencari relasi logis tersebut diarahkan oleh rumusan hipotesis yang telah kita buat. Namun demikian, hal bukan berarti bahwa kita mengarahkan atau merekayasa data yang kita peroleh agar mendukung kebenaran hipotesis. Pengertian mengarahkan dalam hal ini bukanlah mengarahkan hasil uji hipotesis atau hasil penelitian, melainkan dalam arti menunjukkan jalan tentang bagaimana data-data yang telah terklasifikasi itu dihubungkan dan dicari relasi logisnya satu sama lain.
            Sebagai gambaran, kita kembali mengambil contoh masalah hubungan antara pola menonton televisi dan daya tahan konsentrasi belajar anak di atas. Dengan hipotesis yang berbunyi bahwa pola-pola kebiasaan menonton televisi  tertentu akan mempengaruhi durasi konsentrasi anak dalam belajar, setidaknya kita kemudian harus mengumpulkan data-data yang terkait dengan dua unsur dalam permasalahan di atas. Data-data itu dapat digolongkan dalam dua kategori besar. Pertama ialah data-data yang berkaitan dengan pola-pola atau kebiasaan menonton televisi yang dilakukan anak-anak. Kedua data-data tentang daya tahan atau durasi konsentrasi anak. Dalam hal ini kita juga membutuhkan data-data dari anak yang tidak mempunyai kebiasaan menonton televisi  yang dianggap sebagai sebagai faktor penyebab menurunnya durasi konsentrasi anak (Lazimnya konsentrasi manusia bisa bertahan 15-20 menit pertama dalam suatu proses belajar mengajar). Data-data dari kelompok ini akan digunakan sebagai pembanding atas data-data dan hasil analisis atas kelompok anak-anak yang memiliki kebiasaan menonton televisi dengan pola-pola tertentu di atas.
            Data-data itu kita peroleh dengan teknik kuisioner, wawancara, dan pengamatan secara langsung di kelas. Terhadap murid-murid itu, misalnya, bisa kita tanyakan tentang berapa lama ia menonton televisi, sejak kapan melakukannya,  dengan siapa, acara apa saja yang ditonton. Di bagian lain kita bisa memberikan ujian tentang berapa lama ia mampu menekuni sebuah bacaan, berapa lama mampu mendengarkan dan menyimak pembicaraan guru, dan sebagainya. Setelah data-data semacam ini terkumpul  kita kemudian menggolong-golongkannya, mencari relasinya satu sama lain, dan akhinrya menarik kesimpulan logisnya.
           
5. Menarik kesimpulan
            Menarik kesimpulan harus dilakukan berdasarkan atas data-data yang diperoleh, bukan atas dasar kemauan si peneliti atau pihak lain yang sudah dipancangkan sejak awal mengawali penelitian. Oleh karena itu, peneliti yang dapat menghasilkan kesimpulan sesuai dengan pesanan atau keinginan seseorang atau pihak tertentu demi memenuhi kepentingan  politik, misalnya, bisa dipastikan bahwa ia telah melakukan kesalahan besar dan melanggar kaidah ilmiah. Di dunia ilmiah hasil penelitian semacam itu tidak akan banyak gunanya. Secara prosedural penelitian semacam itu cacat dan secara etis sangat tidak pantas.
            Selanjutnya, dari segi koherensi atau keterkaitan logis seluruh proses penelitian, kesimpulan  ini
merupakan jawaban atas perumusan masalah yang telah dibuat di awal penelitian. Oleh karena itu, apa yang disimpulkan harus berkorespondensi dengan apa yang dipertanyakan. Jika di dalam perumusan masalah diajukan tiga pertanyaan hasil perincian dari satu masalah pokok, maka di dalam kesimpulan pun harus dimuat tiga jawaban yang merupakan perincian dari satu jawaban pokok.
          Demikianlah lima tahap dalam proses berpikir ilmiah yang biasanya terjadi dalam proses penelitian. Setelah kelima tahap itu berjalan dengan baik, setelah peneliti menemukan jawaban yang jelas, terang benderang melalui prosedur ilmiah yang ketat dan benar, maka saatnya tiba bagi seorang peneliti untuk menuangkan hasil proses berpikirnya itu dalam bentuk laporan ilmiah. Laporan ilmiah bisa beragam. Misalnya artikel ilmiah, makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain. 

B. Representasi Proses Berpikir Ilmiah dalam Struktur Tulisan
Tahap berpikir ilmiah
Representasinya dalam tulisan ilmiah
Mengenali dan merumuskan  permasalahan
Judul
Pendahuluan:
-latar belakang masalah
-rumusan masalah

Menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis
Pendahuluan
-landasan teori dan metode

Merumuskan hipotesis
Pendahuluan
-hipotesis
Menguji hipotesis
Isi (batang tubuh) tulisan ilmiah
 Menarik kesimpulan
Kesimpulan



***

Daftar Pustaka
Akhadiah, Sabarti, dkk.  Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia, Cet. Ke-8, Jakarta: Erlangga, 1994.
Arikunto, Prof. Dr. Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi 2010, Cet. Ke-14,  Jakarta: Penerbit Rineka  Cipta, 2010.
Gie, The Liang, Kamus Logika, Edisi Ketiga (Disempurnakan), Cet. Ke-1, Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Tim Penulis  Rosda, Kamus Filsafat, Cet. Ke-1, Bandung: Remaja Rosda Karya.


_______________________________________________________

Pertemuan Ke-4
Skema Penelitian dan Karya Tulis Ilmiah
NO.
TAHAP PENELITIAN
REPRESENTASI/ PEMUNCULAN
DALAM KARYA TULIS ILMIAH
CONTOH *
1.
Mencarian dan merumuskan masalah

Judul

**

Pendahuluan/
Proposal Penelitian






















Kuantitas:
10-15%
dari seluruh karya




























…..   Pendahuluan/  Proposal Penelitian








Kuantitas:
10-15%
dari seluruh karya




Latar Belakang Masalah

·        Pengguna internet bertambah dengan cepat dalam sepuluh tahun terakhir.
-          Th 2000, jml. pengguna 1,9 jt.
-          Th 2007, jml. pengguna 25 jt.
(APJI, 2007)
·      Internet sangat potensial sbg sarana beriklan
·      Iklan lewat internet relatif murah
·      Iklan lewat internet sangat marak
Rumusan Masalah
·      Iklan internet menimbulkan ketidaknyamanan sehingga mengurangi efektivitas iklan
·      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi efektivitas iklan di internet dalam sudut pandang ilmu sistem interaksi
Tujuan
·      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas iklan di internet
Manfaat
·      Memberikan acuan dalam pembuatan iklan di internet (online) agar efektif
2
Menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis
Teori


·       Teori iklan Ralph Alexander
- Iklan adalah bentuk komunikasi berbayar yang bersifat nonpersonal yang bertujuan untuk memberikan informasi ttg produk, organisasi, layanan, atau ide dari sponsor tertentu. Iklan merupakan bagian dari proses pemasaran.
- Tujuan iklan: (1) meningkatkan penjualan; (2) membangun awareness atau citra produk. Iklan efektif jika tujuannya tercapai. Dalam hal ini perlu diketahui dg jelas segmen pasar, dan profil konsumen.
- Iklan online mempunyai kelebihan disbanding media lain, yakni adanya kendali/ kontrol yang besar dari konsumen atas apa yg ingin mereka ketahui.
- Efektivitas iklan diukur berdasarkan pencapaian tujuannya, yakni: (1) berapa peningkatan penjualan dan  pangsa pasar (marketshare); (2) seberapa baik proses komunikasi lewat iklan terjadi
·       Teori Sistem Interaksi
-Human Computer Interaction (HCI) merupakan sebuah  disiplin yg mempelajari ttg desain, evaluasi dan penerapan sistem antarmuka lomputer untuk manusia serta fenomena-fenomena yg terjadi di seputar hal itu.
- Menurut Rubin sistem interaksi yg baik harus menekankan kegunaan, kemudahan untuk dipelajari dan  digunakan, dan kesukaan pengguna.

3
Merumuskan hipotesis
Hipotesis

Dari kajian teoretik dan pengamatan pendahuluan, diasumsikan bahwa ada tujuh faktor yang mempengaruhi efektivitas iklan internet dalam sudut pandang sistem interaksi, yakni: (1) ilustrasi; (2) komposisi warna; (3) gaya bahasa; (4) posisi; (5) ukuran font; (6) lokasi; (7) jenis.  
4
Menguji  hipotesis
Metode
Metode penelitian yg digunakan adalah metode kuantitatif. Data diambil dengan teknik
·         Wawancara
·         Eksperimen
Tinjauan Pustaka


Sistematika Penyajian

(Sajikan  urut-urutan penyajian laporan hasil penelitian .)
Bab 1:   Pendahuluan, memuat Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, teori, hipotesis, metode, dan tinjauan pustaka
Bab2:    Analisis dan Pembahasan, memuat analisis, pembahasan masalah, dan kesimpulan-kesimpulan per subpokok pembahasan menurut klasifikasi masalah
Bab 3:   Kesimpulan, memuat hasil penarikan kesimpulan secara menyeluruh berdasarkan analisis dan pembahasan
5









Menarik kesimpulan
Isi/ Batang
Tubuh


Kuantitas:
65-80%
dari seluruh karya
Subbab 1 ….
Ilustrasi sebagai Faktor Penentu Efektivitas Iklan Online
Subbab 2 ….
 Komposisi Warna sebagai Faktor Penentu Efektivitas Iklan Online
Subbab 3 ….
Gaya Bahasa sebagai Faktor Penentu Efektivitas Iklan Online
dst. sampai tuntas
….
Kesimpulan






Kuantitas:
5-10%
dari seluruh karya
Kesimpulan berdasarkan pembahasan

Pengujian statistik dan analisis yang dilakukan terhadap tujuh faktor yang diduga mempengaruhi efektivitas iklan online menunjukkan bahwa ketujuh faktor tersebut mempengaruhi jumlah klik terhadap iklan online.
Saran-saran
-Hal-hal yang belum terliput/ di luar pembahasan tetapi penting
-Kemungkinan-kemungkinan  untuk penelitan lanjut

-   Perlu dilakukan penelitian yang lebih sempit atau terfokus dari masing-masing faktor untuk memperkuat dan memperkaya penelitian ini.
-   Penelitian terhadap efektivitas  dengan sudut pandang lain, misalnya model komunikasi, perlu dilakukan agar kita memperoleh pembandingnya
-   Perlu dilakukan penelitian dengan sampel yang lebih luas
-   Perlu dilakukan penelitian partisipatif yang melibatkan pihak-pihak yg bermain dalam periklanan seperti: biro iklan, penyedia ruang iklan, serta perusahaan pemasang iklan.

  *) Contoh ini disarikan dari penelitian Ilham Aji Pratomo dan Dadan Hardianto, dimuat di Jurnal Sistem Informatika MTI-UII, hal. 26-36, Vol 4, No. 1, ISBN 1412-8896

**) Coba rumuskan judul yang tepat setelah kita mencermati dan membahas skema ini!

____________________________________________________

Pertemuan ke-6

RESENSI BUKU

Rh. Widada

Resensi  adalah ulasan yang mempertimbangkan, membicarakan sebuah buku. Namun demikian,  penggunaan istilah resensi dapat juga diterapkan untuk karya-karya seperti filem atau album musik. Dalam sebuah resensi dibicarakanlah isi karya secara umum, kualitas, kelebihan, kekurangan, kesan-kesan, manfaat, dan hal-hal lain tentang buku yang menurut pembuat resensi perlu dikemukakan. Resensi dapat dikatakan baik jika penilaian atau pertimbangannya disertai dengan alasan-alasan yang meyakinkan atau kuat. Selain itu, penilaiannya itu harus benar-benar berdasarkan pembacaan yang cermat. Data, contoh, atau kasus yang dijadikan sebagai bahan pertimbangannya harus benar-benar diambil dari buku yang bersangkutan. Resensi harus objektif. Dengan keharusan-keharusan seperti itu, resensi dapat dipandang sebagai bentuk pelatihan berpikir dan menulis ilmiah.

Langkah-langkah Membuat Resensi
Resensi yang baik sangat berguna untuk penelusuran dan kajian kepustakaan dalam penelitian. Resensi tersebut dapat menjadi acuan awal tentang buku-buku yang relevan bagi penelitian. Untuk dapat membuat resensi yang baik, kita setidaknya harus melakukan hal-hal sebagai berikut:( 1) membaca dan memahami isi buku;(2) membuat catatan tentang butir-butir penting isi buku; (3) melihat buku tersebut dalam konteks tertentu yang relevan dan aktual; (4) meninjau kelebihan dan kekurangan buku; dan (5) memberikan catatan atau masukan untuk penyempurnaan buku.

1. Membaca dan Memahami Isi Buku
Membaca dan memahami isi buku tentu saja merupakan keharusan agar kita dapat meresensi buku dengan baik. Hal itu karena  pada prinsipnya resensi adalah mengutarakan kembali isi buku secara garis besar dan menilainya. Untuk lebih memudahkan proses ini, ada kiat-kiat tertentu yang dapat dilakukan.
 Pertama, sebelum masuk ke isi buku bacalah terlebih dahulu kata pengantar, daftar isi, dan ringkasan serta komentar di sampul belakang. Langkah ini diperlukan agar kita mengetahui dan bersiap memasuki medan pembahasan dalam buku. Ibarat berperang, membaca buku pun perlu pengetahuan tentang “medan” yang baik, dalam hal ini adalah medan pembicaraan dan pemikiran. Hal ini akan sangat membantu kita dalam memahami arah pembicaraan buku. Jika arah pembicaraan buku sudah bisa kita tebak, tentu kita akan lebih mudah menerima penjelasan dan rincian-rinciannya.
Kedua, bacalah juga indeks jika tersedia. Membaca indeks berguna bagi kita untuk mengetahui konsep, istilah, nama, dan hal-hal penting lain dalam isi buku. Indeks juga bisa menjadi petunjuk awal tentang isi, kulaitas atau bobot buku. Jika istilah-istilah, nama-nama  tokoh  yang dicantumkan di dalam daftar indeks memang penting dan otoritatif, bisa ditebak bahwa isi buku cukup berbobot.
Ketiga, bacalah isi buku secara cermat dan aktif. Jadi, catatlah hal-hal penting yang kita temukan saat membaca buku. Jika hal itu merepotkan atau membuat konsentrasi terganggu, kita bisa langsung menandai hal-hal penting tersebut langsung pada buku dengan menggunakan pensil.

2. Membuat Catatan tentang Butir-butir Penting
Setelah kita membaca seluruh isi buku, kita sebaiknya membuat catatan yang merangkum butir-butir penting buku. Langkah ini penting karena berguna untuk menambatkan apa yang telah kita baca dalam pikiran kita. Perhatikanlah bahwa catatan rangkuman kita ini secara garis besar akan mempunyai kesamaan dengan daftar isi. Perbedaannya terdapat pada pandangan subjektif kita mengenai apa yang kita anggap penting dalam buku. Hal-hal yang menurut kita penting mungkin belum muncul daftar isi.
  
3. Menempatkan Buku dalam Sebuah Konteks yang Aktual
Konteks adalah segenap situasi, informasi, fakta, dan gejala-gejala yang berkaitan atau relevan dengan kemunculan suatu hal atau kejadian, dalam hal ini ialah terbitnya sebuah buku. Langkah ini penting karena berguna untuk: (1) lebih memahami isi buku secara umum; (2) melihat arti penting, manfaat buku; dan (3)menambah daya tarik resensi atau ulasan kita, terutama jika resensi itu kita tujukan untuk dipublikasikan di media massa. Keterkaitan buku dengan masalah-masalah aktual di masyarakat ini juga merupakan salah satu pertimbangan penting bagi redaksi media massa untuk memuat atau tidak resensi kita.

4. Melihat Kelebihan dan Kekurangan Buku
Resensi yang baik seharusnya memuat penilaian tentang buku yang diulasnya. Jadi, kualitas, kekurangan atau kelebihan buku sedapat mungkin dikemukakan secara adil di dalam resensi. Mengapa demikian? Karena resensi dari sudut pandang pembaca resensi biasanya akan dijadikan rujukan dalam mengambil keputusan terkait dengan buku atau karya lain yang diresensi itu. Calon pembaca buku atau penonton filem akan terbantu untuk menentukan apakah akan membeli/menonton atau tidak setelah membaca resensi. Kalau resensi kita tidak objektif, misalnya hanya mengemukakan kelebihan-kelebihan buku atau filem, calon pembaca atau penonton bisa berpikir bahwa mereka telah tertipu oleh resensi kita ketika mendapati bahwa buku atau filem yang dibaca atau ditontonnya tidak sebagus seperti yang dikatakan dalam resesensi. Pada gilirannya hal itu akan mengurangi kredibilitas penulis resensi.

5. Memberikan Masukan untuk Penyempurnaan Buku
Setelah kita mengungkapkan isi buku secara umum, menilai kualitasnya, mengungkapkan kelebihan dan kekurangannya, ada satu hal lagi yang juga penting yaitu memberikan masukan untuk penyempurnaan buku. Hal terutama sangatlah bermanfaat bai penulis dan penerbit yang bersangkutan. Mereka akan sangat terbantu dengan masukan seperti ini. Jika masukan-masukan dalam resensi itu bagus, hal itu bisa menjadi “credit point” bagi penulis resensi di mata penulis dan penerbit. Penulis resensi yang berkualitas seperti itu bahkan sering diminta oleh penerbit atau penulis dengan dikirimi buku secara cuma-cuma.

Manfaat Menulis Resensi
Menulis resensi adalah kegiatan yang sangat bermanfaat terutama bagi mahasiswa. Manfaat-manfaat itu antara lain adalah (1) menambah wawasan dan pengetahuan; (2) melatih kemampuan berpikir; (3) memperoleh tambahan uang saku; (4) menambah “nilai jual” kita; (5) menjadi sarana untuk memperoleh buku-buku baru (dari penerbit) secara gratis.
          Dari sudut pandang penulis atau penerbit, sebagaimana telah dikatakan, resensi berguna untuk penyempurnaan buku jika suatu ketika hendak direvisi dan dicetak ulang. Adapun secara umum dari sudut pandang konsumen buku, resensi merupakan rujukan bagi mereka untuk mengambil keputusan.

***