Resensi

Sepenggal Kisah dari Zaman Bergerak
Judul buku:           De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme 
Penulis:                 Afifah Afra
Penerbit:                Afra Publishing, Indiva Media Kreasi, Surakarta
Tahun terbit:         Januari 2008
Jumlah halaman:    336

Dalam pemandangan historiografi Indonesia lazim dikemukakan bahwa kurun sepertiga akhir abad XIX hingga sepertiga awal abad XX merupakan era percepatan sistem ekonomi liberal di koloni Hindia Belanda (Indonesia). Era itu ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang Agraria (UUA) atau Agrariche Wet dan Undang-undang Gula (Suiker Wet) pada 1870 oleh penguasa kolonial Belanda atas desakan kaum liberal. Melalui UUA ini hak kepemilikan tanah oleh bumiputera dihidupkan kembali setelah dihapuskan sejak Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) pada 1830. Di sisi lain, UUA membuka peluang bagi para investor Eropa untuk menyewa tanah secara besar-besaran guna mendirikan perkebunan kopi, nila, tebu, dan tembakau.
            Akan tetapi, tidak seperti harapan kaum liberal yang memaksudkan kebijakan itu sebagai koreksi atas Tanam Paksa, berbagai kebijakan tersebut ternyata tak juga membawa perbaikan bagi kaum bumiputera. Perburuan keuntungan oleh para pemodal swasta justru memporakporandakan perekonomian bumiputera secara umum. Hanya segelintir bumiputera yang berkat privilese, permodalan, maupun kulturnya, mampu “ambil bagian” dalam sistem ekonomi liberal itu. Misalnya  antara lain adalah KGPAA Mangkunegara IV, yang mendirikan pabrik gula Colomadu dan Tasik Madu, juga kaum pedagang di Laweyan Solo.
            Kondisi tersebut rupanya memunculkan kesadaran pada sebagian kalangan di Belanda akan pentingnya memperbaiki nasib bumiputera. Mereka merasa hal itu merupakan kewajiban bagi bangsa kulit putih yang “lebih beradab”. Di samping itu, ada alasan yang tak bisa dipungkiri bahwa mereka berhutang budi kepada rakyat Hindia-Belanda—tersebab pengorbanan paksa merekalah, Belanda bisa menikmati kemakmuran selaku penguasa kolonial. Ini  terutama sangat terasa ketika Belanda berhasil memulihkan kondisi keuangannya melalui pelaksanaan Tanam Paksa setelah terkuras selama Perang Diponegoro pada 1825-1830.
Maka pada tahun 1901 Ratu Wihelmina mengumumkan kebijakan baru dalam politik kolonial yang lazim disebut Politik Etis. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bumiputera dan secara bertahap menumbuhkan otonomi dan desentralisasi politik di Hindia-Belanda. Salah satu berkah dari Politik Etis ini adalah lahirnya generasi awal kaum terpelajar Indonesia seperti Wahidin  Sudirohusodo, Sutomo, Ki Hajar Dewantara, R.M. Tirtoadisuryo dan tokoh-tokoh  lain yang kelak menjadi pelopor bagi tumbuhnya nasionalisme Indonesia.
            Fajar nasionalisme itu kemudian beroleh momentumnya untuk menjadi terang benderang dari berbagai peristiwa besar di panggung sejarah dunia. Kemenangan Jepang atas Rusia, reformasi Kwang-Zu di Cina menjelang abad XX, munculnya Pan Islamisme menyusul gerakan Turki Muda (1880-1902), lahirnya Komunis Internasionale (Komitern), Revolusi Bolshevik (1917), dan tentu berakhirnya Perang Dunia I (1918) semua itu menimbulkan “efek karambol” bagi bertumbuhnya gagasan-gagasan tentang bangsa, hak asasi manusia, kemajuan, kedaulatan, dan terutama kemerdekaan.          
            Pergolakan di panggung sejarah dunia tersebut pada hakikatnya merupakan cerminan dari perbenturan ideologi-ideologi penggerak sejarah pada masa itu, yakni imperialisme-kapitalisme (Eropa) melawan sosialisme-komunisme, Islamisme, dan nasionalisme. Di Indonesia awal abad XX peta kekuatan ideologis penggerak sejarah pun memperlihatkan panorama serupa itu.
            Di dalam catatan sejarah sastra Indonesia, semangat zaman dan dinamika sosiohistoris pada awal abad XX tersebut banyak menjadi inspirasi dan subjek tulisan bagi banyak karya sastra, baik yang ditulis pada zaman tersebut maupun sesudahnya. Misalnya adalah Student Hijo (1919) karya Mas Marco Kartodikromo, Hikajat Kadiroen (1920) karya Semaoen, dan tentu karya master piece Pramoedya Ananta Toer, tetralogi Bumi Manusia. Memasuki awal 2008, hampir satu abad setelah masa-masa itu berlalu, masyarakat sastra Indonesia kembali disuguhi oleh sebuah karya yang mengangkat dinamika sosio-historis Indonesia awal abad XX, yakni novel De Winst karya Afifah Afra. De Winst dibuka dengan kepulangan Raden Mas (RM) Rangga Puruhita Suryanegara dari Belanda setelah ia menamatkan studi ekonominya di Rijksuniversiteit, Leiden. Setiba di tanah air, kesadaran Rangga sebagai intelektual kembali terusik ketika didapatinya nasib bumiputera masih juga terpuruk dan tertindas. Politik Etis yang didengungkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda tak membuat perubahan yang berarti bagi kebanyakan orang.
Kegelisahan Rangga sebagai seorang intelektual makin membesar ketika ia berga-
bung dalam jajaran manajemen pabrik gula De Winst—salah satu representasi dari sistem ekonomi kapitalis itu—atas saran ayahnya, Kanjeng Gusti Pangeran Harya Suryanegara, yang juga adalah salah satu pemegang saham di pabrik gula itu. Di sini ia menyaksikan dari dekat bagaimana praktik ekonomi kapitalistik liberal yang bersekutu dengan imperialisme semakin kuat melembaga dalam mengeksploitasi buruh bumiputera dan kekayaan koloni Hindia-Belanda. Ia dapati upah buruh yang sangat kecil, jauh untuk mencukupi kebutuhan hidup. Demikian pun uang sewa tanah perkebunan dipatok dengan sangat rendah.
Rangga pun tergerak untuk “berjuang dari dalam”; dan memang itulah yang diinginkan ayahnya. Namun, itu bukanlah hal yang mudah. Di titik genting pembelaannya untuk memperbaiki upah buruh dan sewa tanah, ia dipecat oleh Kepala Pabrik Jan Thijsee. Maka Rangga pun tidak bisa lain kecuali memilih jalan perjuangan yang lebih frontal. Lebih dari itu, ada juga dorongan sentimen pribadi Rangga terhadap Jan Thijsee. Sentimen itu timbul karena ternyata si Kepala Pabrik itu, entah dengan cara apa, telah memperistri Everdine Kareen Spinoza, gadis Belanda teman seperjalanan Rangga dari Belanda yang telah menawan hatinya. Demikian pun sebaliknya Rangga bagi Kareen.  
Di luar itu, kesadaran akan perjuangan Rangga diperkuat pula oleh interaksinya dengan tokoh-tokoh dari berbagai haluan. Ada Haji Ngalim Sudarman dan para pedagang batik di Laweyan dari kalangan Islami. Ada Kresna si pemuda misterius, Sekar Prembayun (putri ningrat yang telah dijodohkan dengan Rangga), dan Jatmiko sang Ketua Cabang Partai Rakyat, yang ketiganya berhaluan sosialis-marxis. Maka bersama dengan kaum pedagang muslim dari Laweyan, ia mendesain pemberdayaan ekonomi bumiputera. Usaha itu ditempuhnya antara lain dengan rencana pendirian pabrik tekstil dan perkebunan kapas sebagai penyedia bahan bakunya. Tentu saja di situ diberlakukan sistem kerja dan pengupahan yang manusiawi dan layak. Selanjutnya, dengan dukungan aktivis Partai Rakyat, ketua serikat buruh yang ditanam di pabrik gula De Winst, direncanakan pula upaya memobilisasi buruh pabrik gula itu untuk melakukan eksodus besar-besaran ke pabrik tekstil yang hendak dibangun Rangga.
            Akan tetapi, upaya perjuangan ekonomi Rangga dan sejumlah aktivis itu bisa digagalkan. Jatmiko, Sekar, dan Rangga akhirnya ditangkap dan diasingkan. Sementara itu Kresna hilang begitu saja. Rupanya kekuatan kapitalis dengan dukungan yang terlembaga dari penguasa kolonial masih terlalu kuat untuk mereka lawan. Dan yang lebih menyakitkan,
ada saja para pengkhianat di antara kawan seperjuangan.
            Meninjau subjek yang diangkat dan struktur yang dibangunnya, karya ini tergolong sebagai novel sejarah. Dan sebagai novel sejarah, karya ini cukup berhasil menggambarkan masa lalu dalam sebuah fiksi. Melalui personifikasi pada diri tokoh-tokohnya, novel ini mampu menampilkan perbenturan antar-ideologi yang menjadi kekuatan penggerak sejarah pada masa itu. Sosialisme-marxisme (Jatmiko, Kresna, Prembayun) dan Islam (Haji Abdul Ngalim Sudarman, Rangga) saling bergesekan dalam spirit nasionalisme yang sedang menuju kematangannya. Ketiga paham itu kemudian menghadapi musuh bersama: imperialisme Eropa yang berkawin dengan kapitalisme (Jan Thijsee).
            Suasana dan semangat “zaman bergerak” yang sarat dengan ide perubahan serta kemajuan pada masa itu pun tergambar dengan cukup hidup. Ada gambaran tentang anak-anak kaum ningrat dan priyayi yang menempuh “studi” hingga di Belanda, tentang  pembukaan wawasan intelektual mereka berkat perkenalan dengan wacana dan gerakan intelektual dunia, tentang aktivitas kaum pergerakan dan gesekan ideologis mereka, dan juga mengenai pertentangan antargenerasi.
            Yang cukup mengesankan, gambaran kondisi sosio-historis yang diwarnai berbagai wacana intelektual dan ideologi tersebut tidak mengakibatkan novel ini menjadi kering. Secara lihai penulis mengadon komposisi yang cukup berat itu dalam alur yang mengasyikkan dan juga romansa-romansa yang manis dan kadang haru biru. Misalnya adalah pertemuan Rangga dengan Kareen di atas kapal yang membawa mereka dari Belanda, tindakan Rangga untuk melindungi Kareen dari gangguan Jan Thijsee, dan juga cinta Sekar Prembayun kepada Jatmiko yang tak digubris karena Jatmiko telah menyerahkan hidupnya bulat-bulat untuk pergerakan, kenekadan KGPH Suryanegara untuk membunuh Jan Thijsee sebagai penebusan kesalahannya pada Pratiwi, anak gelapnya yang ia biarkan selama ini.
            Namun demikian, tidak berarti novel ini tanpa cacat. Pertama yang harus disebut yakni bahwa mungkin karena pretensinya sebagai novel sejarah, karya ini cenderung berhenti pada gambaran-gambaran umum mengenai kondisi saat itu. Artinya, apa yang diungkapkan oleh novel ini sesungguhnya tak jauh beda dari apa yang bisa diungkap oleh tulisan-tulisan sejarah. Hanya saja di novel ini semua itu diramu dalam bentuk cerita yang mengasyikkan. Karya sastra harusnya mampu mengungkap hal-hal yang tak terungkapkan oleh risalah lain. Jika saja, misalnya, penulis lebih mengeksploitasi dan mempertajam konflik-konflik batin yang dialami Rangga dalam perbenturan ideologis ataupun intelektualnya dengan Jatmiko, Sekar Prembayun, ayahandanya, atau bahkan Johan van de Vondel, profesornya yang sangat dihormatinya, tentu novel ini akan lebih mengesankan.
            Kedua, mungkin karena pretensinya sebagai pembangkit idealisme, novel ini cenderung menampilkan tokoh-tokohnya sebagai sejenis superhero kecuali Rangga. Ini terutama sangat vulgar pada diri Jatmiko dan Sekar Prembayun. Kedua aktivis sosialis-marxis tersebut tampil supermilitan dan sempurna. Jatmiko dengan sangat heroik menyerahkan hidupnya bulat-bulat untuk perjuangan kemerdekaan (hlm. 24). Hatinya bahkan tertutup untuk perempuan. Andai saja Jatmiko juga tampil dengan segenap rasa takutnya pada kelaparan, penangkapan, dan penyiksaan, tentu heroismenya akan lebih meyakinkan. Saya pikir Sukarno, Hatta, dan bahkan Tan Malaka adalah orang-orang yang mengenal rasa takutnya sendiri dengan baik.
Sementara itu, Sekar Prembayun begitu lihai dan mudah menyiasati kungkungan tembok keningratannya. Ia bisa menyamar dan mengecoh semua orang sebagai pemuda ganteng aktivis pergerakan, Kresna. Ini berlebihan. Maka jangan salahkan pembaca jika mereka ada yang teringat pada Zoro, Spiderman, atau Superman dengan identitas ganda mereka. Saya semula berharap Kresna adalah pemuda tipe Don Juan yang memikat perempuan dengan kefasihannya bertutur tentang Marx, Adam Smith, Charles Darwin, atau Muhammad karena dengan begitu ceritanya tentu lebih wajar.
Kelemahan lain yang cukup mengganggu adalah masalah kekurangcermatan penulis. Misalnya adalah penggunaan gelar Sultan untuk Pakubuwana (hlm. 136), inkonsistensi penggunaan nama samaran Sekar Prembayun: Elizabeth Weston (108) atau Elizabeth Fenton (233, 242)?, dan pemakaian nama Sekar Prembayun. Penyebutan nama ini cukup mengundang tanya bagi orang yang tahu tentang kebiasaan ningrat Jawa trah Mataram, karena nama yang lazim digunakan adalah Sekar Pembayun.
Namun demikian, kelemahan-kelemahan tersebut tak membuat novel ini menjadi kurang bernilai. Bagaimanapun De Winst merupakan sebuah novel yang layak dibaca karena substansinya sangat kita butuhkan, apalagi ketika idealisme kini menjadi sesuatu yang cukup asing, kalaupun bukan hilang  bagi kebanyakan orang muda.
(Rh. Widada)

------------------------------------------------------------------------------------

Resensi Buku

Cara Sehat Menjadi Kaya

Judul buku                  : Menjadi Kaya, Sukses & Sehat dengan Kekuatan Pikiran
Pengarang                   : Bambang Prakuso
Penerbit                       : Indonesia Cerdas
Cetakan, tahun terbit  : Cetakan Pertama, 2008
Jumlah halaman           : 244

OTAK manusia adalah anugerah Tuhan yang luar biasa hebatnya. Namun, kebanyakan orang belum menyadarinya dan juga tidak tahu bagaimana cara memberdayakan potensi yang sungguh luar biasa itu. Menurut para ahli yang mendalami ilmu dan cara kerja otak ini, umumnya manusia hanya mempergunakan 10 persen dari seluruh kemampuan otaknya. Dengan 10 persen itu saja, kita melihat banyak pencapaian yang sungguh mencengangkan saat ini.
Yang paling mudah kita lihat, misalnya, adalah percepatan teknologi informasi dan komunikasi dalam dua dasawarsa terakhir ini. Pada akhir tahun delapan puluhan kebanyakan kita tak pernah membayangkan bahwa hari ini hanya dengan mengetuk dua-tiga kali tombol keyboard kita bisa langsung mengetahui berbagai peristiwa, bertransaksi, atau sekadar mengobrol dengan orang-orang di berbagai belahan bumi. Kini dunia ada di ujung jari kita! Belum lagi jika kita mencoba untuk melihat pencapaian lainnya, seperti perkembangan teori fisika, teori biomolekuler, rekayasa genetika, ilmu kedokteran, hasil karya seni agung yang begitu menyentuh, yang semuanya menegaskan bahwa potensi otak manusia itu demikian besarnya.
            Maka sungguh tidak terbayangkan apa yang bisa dibuat manusia jika 80 persen sisa kemampuan otak itu benar-benar diberdayakan. Akan tetapi, sayangnya kita kebanyakan baru menggunakannya di bawah 10 persen. Itu pun cenderung digunakan untuk hal-hal yang kurang maslahat atau produktif-positif. Misalnya bergosip, menonton acara televisi yang dipenuhi berita kasus perselingkuhan, kawin cerai para artis, sinetron-sinetron bodoh, juga peristiwa politik yang penuh skandal dan praktik amoral. Oleh karenanya, otak juga menjadi tidak bagus fungsinya, tidak bisa menghasilkan pikiran, ide-ide kreatif yang penuh kemaslahatan. Ibarat komputer, otak yang demikian itu sudah terkena virus yang merusak sistem dan program-programnya.
            Untuk memperbaiki komputer yang rusak seperti itu, kita perlu memformat kembali, lalu memasukkan program yang baru yang bermanfaat sehingga sistem pengolahan data oleh komputer kembali berjalan baik dan bisa menghasilkan sesuatu yang baik.
            Buku berjudul Menjadi Kaya, Sukses, dan Sehat karya Bambang Prakuso ini membahas tentang kemampuan, cara kerja otak, dan bagaimana cara-cara memberdayakannya secara lebih maksimal sehingga akan mengarahkan dan memudahkan orang untuk mewujudkan hal-hal positif yang diinginkannya, terutama kekayaan dan kesehatan.
            Dengan penyajian yang runtut, satu demi satu, dan bahasa yang sederhana, jelas, akrab, tetapi tanpa melupakan bobot substansi, kesahihan argumentasi dan sumber-sumber rujukannya, penulis menguraikan tentang potensi besar otak dan cara-cara memberdayakannya.
            Dalam hal ini, Bambang Prakuso memperkuat pendapat serta kiat-kiat yang diajukannya dengan landasan ilmu-ilmu Neuro Linguistic Programming (NLP). Neuro berarti ‘otak’, linguistic berarti ‘bahasa’, dan programming berarti ‘program’. Jadi, NLP secara harafiah adalah program bahasa otak. NLP dicetuskan sekitar tahun 1970-an oleh Richard Bandler (pakar matematika dan program komputer) dan John Grinder (seorang profesor linguistik).
            Secara garis besar pembahasan yang dikemukakan Bambang Prakuso untuk memberdayakan otak secara lebih maksimal adalah sebagai berikut. Mula-mula yang harus dilakukan adalah “memformat” atau membentuk, melatih, dan memprogram otak kita agar bisa bekerja dengan lebih baik. Hal ini bisa dicapai dengan berbagai metode, seperti melatih konsentrasi, membiasakan untuk mempergunakan segenap kemampuan otak secara seimbang, memanfaatkan kekuatan alam bawah sadar dengan cara mengisinya hanya dengan pikiran-pikiran, harapan-harapan, “impian” serta cita-cita yang baik. Dengan demikian, secara tidak sadar gerak kita juga akan selalu mengarah pada hal-hal yang baik. Ini sekaligus berarti juga membuang berbagai informasi, pikiran, dan niat-niat yang buruk sehingga kelak jika dibutuhkan, misalnya untuk mencari solusi atas sebuah permasalahan, kemampuan bawah sadar kita akan mengarah pada solusi yang tepat dan baik.
            Selain itu, yang lebih melegakan, Bambang Prakuso juga berupaya memberikan peneguhan atas pendapat-pendapatnya dengan sumber-sumber religius dari berbagai agama. Oleh karena itu, apa yang dikemukakannya juga mempunyai alasan moral dan etika yang meyakinkan. Ini sungguh menyejukkan dalam situasi saat ini; pertama, karena saat ini banyak orang yang sudah tidak ambil pusing lagi dengan masalah moral dan etika dalam mencapai kemakmuran ekonomi; kedua, upaya Bambang Prakuso untuk tidak hanya menengok pada salah satu agama itu merupakan langkah yang terpuji karena akan memberikan sumbangan bagi kerukunan sosial yang saat ini sangat mudah terkoyak dengan alasan agama. Dengan demikian, ajakan Bambang Prakuso untuk menjadi orang kaya, sukses, dan sehat—tanpa melupakan untuk terlebih dahulu menjadi orang baik— merupakan “virus kebajikan” yang harus disebarkan kepada siapa pun untuk diambil manfaatnya.
            Yang terakhir dan yang melengkapi buku ini sehingga menjadi “bergizi” (meminjam istilah Hernowo, penulis buku dan praktisi penerbitan buku), buku ini penulis tidak sekadar mengemukakan gagasan-gagasan hebat dan indah yang kurang jelas aplikasinya. Akan tetapi, buku ini juga dilengkapi dengan panduan-panduan praktis, bermacam-macam program tertulis lengkap dengan formulir-formulir yang bisa diisi agar upaya Anda untuk menjadi kaya, sukses, dan sehat benar-benar terencana, terukur, dan terwujud! Akhirnya, baca dan amalkanlah anjuran-anjuran buku ini sehingga Anda menjadi orang baik hati dan kaya!
--Yayan RH