Jumat, 10 Juni 2011

Haiku Tengah Hujan

Cerpen Rh. Widada

Langit malam bermendung tebal. Udara panas. Dengan hentakan keras, Ben membuka  pintu kamar kosnya. Terdengar sesuatu terbentur daun pintu, disusul  suara menguik keras. Pintu terbuka separo. Seekor pudel terguling di depan pintu, kedua kaki depannya meraih-raih udara sebelum akhirnya ia berhasil kembali tegak di atas keempat kakinya yang penuh lumpur.
            “Hai ada ‘anak’ tersesat rupanya?” Ben menyapa anjing itu. ”Kecebur di selokan ya Bung!” Si pudel bergidik, maka mencipratlah  lumpur ke mana-mana dari rambut gimbalnya. Sebutir pasir mampir ke mata Ben.”Dasar anjing!” serta-merta Ben mengambil sapu lalu mengayunkannya ke arah perut si pudel. Namun, ayunan sapu itu terhenti demi dilihat oleh Ben rambut gimbal si pudel di sekitar kupingnya. Bercak-bercak di situ bukan lumpur semata. Ada campuran warna merah kecoklatan di sana.
            “Kenapa dengan kupingmu Nak? Habis berkelahi dengan preman pasar ya?” Ben membungkuk dan memeriksa kepala si pudel. “Ya Tuhan, apakah anjing-anjing pasar itu suka makan kuping?” Telinga pudel itu  ternyata tinggal yang kiri. “Dengar kawan, meski kamu telah berlaku kurang ajar dengan lumpur dan rambut gimbalmu itu, bukanlah tabiatku untuk membalas orang yang sedang terluka. Oke, tunggu sebentar.”
Ben masuk kamar dan kembali dengan membawa kapas, rivanol, dan iodin. Lalu ia mulai membersihkan luka-luka anjing. Disibakkannya rambut gimbal anjing itu, “Kamu pasti penggemar berat Bob Marley!” Tanpa sadar Ben kemudian menyanyi-nyanyi kecil, “No women no cry…,   tapi perempuan bisa bikin kamu nangis Bung! Tanpa perempuan, kamu akan merana! Tapi, sudahlah. Aku tak mau omong tentang perempuan.”
Ben berhenti menyanyi-nyanyi. Sunyi memenuhi udara; dan tambah sunyi oleh dentingan genta-genta di depan pintu yang diayunkan angin. Ben menghela nafas panjang. Genta-genta itu hadiah dari Naida setelah Naida menamatkan studinya di Jepang. Dan dentingan genta-genta itu ternyata kemudian tak lebih dari lonceng kematian cinta Naida untuk Ben. Yukio San menyusul Naida ke Indonesia, dia bilang  tak kuat menahan rindu.
Apakah cinta memang keparat tak kepalang tanggung? Naida bilang, “Yukio San adalah pria lembut. Di taksi menuju bandara Narita, ia titikkan airmata dan bilang ingin menikahiku. Ben, sayangku, aku mencintai dua pria sekaligus. Dosakah aku?” Ben yang selalu ingin menjunjung tinggi kejujuran sungguh-sungguh harus menghargai pengakuan Naida. Dan itu pahit benar .
Ben memberi kebebasan kepada Naida untuk memilih: Ben atau Yukio. Dan si Jepang lebih beruntung. Apakah itu tersebab Yukio adalah seorang dosen, seorang doktor sejarah Asia yang cemerlang, sedangkan Ben ‘cuma’ pelukis yang baru mencari identitas? Ben tidak tahu. Yang jelas kini Naida tinggal di Tokyo sebagai istri Yukio San.  Naida, aku ingin melukismu dalam kimono, begitu Ben sering melamun.
“Tahan sedikit Bung, hanya perih sebentar. Kalau sudah sembuh nanti, kamu pasti tampak lebih gagah dengan sebelah telinga saja. Kamu bisa ceritakan pada teman-teman kecilmu, betapa sengitnya kamu berkelahi dengan anjing-anjing pasar itu.” Si pudel mendengus dan menguik senang. “He, he, apa? Kamu pikir cewek-cewek akan kagum dengan telingamu. Dasar anjing buaya!”
            Setelah membubuhi kuping si pudel dengan iodin, Ben menyodorkan air dalam
cawan plastik pada si pudel. “Sorry cuma air putih dan aku nggak punya makanan kecil. Lagi pula apakah bedanya kopi dan air ledeng bagimu?” (Dulu Naida selalu membawakan makanan kecil, rokok, atau sebungkus kopi tumbuk asli kesukaan Ben jika ia mengunjungi Ben). Si pudel dengan rakus segera minum sampai puas.
“Nah, kamu kini sudah mendingan. Kamu boleh pergi. Terus terang aku tak suka anjing. Lagi pula, pasti tuanmu akan mencari-carimu. Hus, hus, sana pergi sebelum aku jengkel!” Ben menyorong si pudel dengan sapu, namun si anjing malah mendekam bersitahan sambil menatap Ben dan menjulur-julurkan lidahnya. Lalu ia mulai mengendus-ngendus lantai, dan  akhirnya mengendus keranjang sampah di depan teras lalu menumpahkan isinya.
 “Apa lagi, Nak? Lapar? Baiklah, aku tidak akan kepalang tanggung menolongmu.” Ben masuk lagi ke kamar dan kembali dengan sebungkus mie instan di tangan. “Dengar, ini jatah sarapanku besok pagi. Aku malas memasak untukmu. Makan saja mentah-mentah; ini tak terlalu buruk bagi seekor anjing, bukan?” Ben membagi mie keringnya lalu menyodorkan sebagian pada si pudel. Anjing itu segera mengendus, menjilat, dan memakannya sedikit. Lalu ia meninggalkan mie itu dan kembali mengendus-endus mengitari teras.
“Dasar anjing tak tahu diuntung. Masak kamu tak mau makan jatah sarapanku. Kamu pikir karena tampang borjuismu itu, kamu boleh menghina dan  menginjak harga diriku. Aku memang cuma pelukis nggak laku, tapi aku punya visi besar, Bung!” Ben menyodok perut si pudel agak keras. Anjing itu mengaing kesakitan dan terguling-guling. “Andai kupingmu tidak sakit, pasti kutendang kepalamu.” Namun, si pudel tetap tak mau pergi. Ia hanya mendekam ketakutan, kepalanya menempel ke lantai.”Maaf Bung aku
kalap. Tapi, bagaimanapun kamu harus pergi. Sebenarnyalah aku tak suka anjing.”   
Ben menggendong pudel itu. Dengan bersepeda ia bawa pudel kotor itu pergi. Ben ingin melepaskan anjing itu jauh-jauh dari kamar kosnya. Sampai di sebuah taman, ia berhenti. Setelah mengelus beberapa kali kepala si pudel, ia meletakkan si pudel di bawah sebuah bangku taman. Cepat ia berbalik dan mengayuh sepedanya kuat-kuat.  Anjing itu berusaha mengejar. Ben mengayuh sepedanya lebih kuat. Dan si pudel jauh tertinggal. Sengaja Ben mengambil jalan pulang memutar untuk makin membuat bingung si pudel. Lega, begitu pikirnya ketika ia sampai di kamar kost tanpa si pudel di belakangnya.
Kini kembali ia sendirian di kamarnya. Di antara palet, cat, kuas, pisau lukis, ia termangu menghadapi kanvas kosong. Ia ingin Naida ada di dalam kanvas itu. Tapi setelah menatap kanvas berjam-jam, Ben tak juga menggoreskan apa pun di sana. Terlalu banyak warna dari Naida. Terlalu banyak goresan untuk Naida. Dan itu dirasainya perih—apalagi membayangkan Naida dalam kimono. Tapi celakanya, Ben ingin melukisnya.
Lelah karena terhimpit antara keinginan dan rasa tak berdaya, Ben tertidur dengan kepala tertumpu pada kursi dan tangan menggenggam kuas. Ia terbangun ketika tempias air hujan bersama angin menyerbu  mukanya melalui jendela dan pintu kamar yang masih terbuka. Setengah sadar ia lihat jam dinding: sudah lewat tengah malam. Tempias air hujan dan angin makin kencang, menghantam dan menghempaskan kalender-duduk dari atas meja. Genta-genta di depan pintu berkelining ribut. Angin benar-benar menggila. Dan sesekali halilintar menyambar.
Ben beranjak hendak menutup pintu dan jendela. Dilihatnya tempat sampah yang terguling itu; isinya makin berserakan. “Rupanya akan terjadi hujan prahara malam ini. Ya, Tuhan bagaimana dengan si gimbal borjuis itu? Ah, pasti ia bisa berteduh. Tampaknya ia cukup pintar dan berani. Tapi, dia sedang terluka dan kelaparan. Sekarang tentu ia kedinginan. Tidak, tidak…, aku tak salah. Apa yang salah dariku kalau aku tak suka dan tak mau direpoti oleh seekor anjing. Tapi dia terluka. Tentu perih sekali telinganya. Tentu perih, aku sangat tahu itu, aku merasainya.”
Genta-genta di depan pintu makin ribut dipermainkan angin ketika Ben mengenakan jas hujan lalu mengeluarkan sepeda. Lima tahun yang lalu ia pernah menembus hujan deras dan angin kencang pada malam segila itu. Tapi waktu itu ia mendekap tas plastik kecil berisi buku puisi untuk Naida. Kali ini ia menyandang tas ransel kosong yang cukup besar. Seekor pudel dapat meringkuk dengan nyaman di dalamnya.
Yogya, September 2003
-Dimuat di Minggu Pagi, No. 8 Th. 57, Minggu IV Mei 2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar